KEBUMEN, beritakebumen.co.id - Desa Gebangsari, Kabupaten Kebumen, sejak lama dikenal sebagai salah satu sentra gerabah. Dari tangan para pengrajinnya, tanah liat diolah menjadi berbagai peralatan rumah tangga hingga pot bunga yang memiliki ciri khas warna merah, tekstur keras, dan permukaan kasar. Namun, di tengah perkembangan zaman, jumlah pengrajin gerabah di desa tersebut perlahan semakin berkurang.
Di antara mereka yang masih bertahan adalah Sarmo, biasa akrab disapa Mbah Sarmo. Sejak 1988, ia memilih mengabdikan hidupnya untuk membuat gerabah. Dari awal hanya bekerja bersama sang istri dan berjualan dengan sepeda, kini usahanya telah berkembang hingga memiliki lima karyawan dan pelanggan dari berbagai daerah.
-----------------------------
Ikuti BeritaKebumen
Gebangsari dikenal sebagai Kampung Gerabah
Bagi masyarakat Kebumen, nama Desa Gebangsari sudah tidak asing sebagai daerah penghasil gerabah.
Tradisi membuat gerabah telah berlangsung sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat. Tidak sedikit warga yang menggantungkan penghasilan dari keterampilan mengolah tanah liat menjadi berbagai macam produk.
Gerabah buatan Gebangsari memiliki karakter tersendiri. Produk yang dihasilkan umumnya memiliki warna merah dengan tekstur yang keras dan permukaan relatif kasar.
Ciri tersebut menjadi salah satu identitas gerabah Gebangsari yang membuatnya tetap memiliki pasar hingga sekarang.
Salah satu pengrajin yang masih bertahan adalah Mbah Sarmo.
Memilih pulang dan menjadi pengrajin
Mbah Sarmo mulai menekuni kerajinan gerabah pada 1988.
Sebelum memutuskan menjadi pengrajin, ia sempat merantau dan bekerja sebagai pegawai toko pakaian. Namun, perjalanan tersebut akhirnya membawanya kembali ke kampung halaman.
Sesampainya di Gebangsari, Mbah Sarmo memilih memulai usaha gerabah secara sederhana bersama istrinya.
Saat itu, sang istri lebih banyak mengerjakan proses pembentukan gerabah. Sementara Mbah Sarmo bertugas membantu merapikan hasil produksi sekaligus menjualnya.
Tidak hanya menunggu pembeli datang, ia bahkan berkeliling menggunakan sepeda untuk menawarkan gerabah hasil produksinya.
Wilayah yang didatanginya mencakup sejumlah daerah di Kecamatan Adimulyo. Selain berjualan langsung kepada masyarakat, Mbah Sarmo juga memasok gerabah ke beberapa toko.
Perjuangan tersebut dilakukan dari hari ke hari.
“Kalau keliling begitu habis terus, pulang dapat beras dapat uang, ya seneng lah, nggak berasa capek” ujar Mbah Sarmo dengan ceria.
Puluhan tahun membuat gerabah tanpa bosan
Bertahun-tahun menggeluti pekerjaan yang sama ternyata tidak membuat Mbah Sarmo kehilangan semangat.
Ia justru mengaku semakin mantap menekuni kerajinan gerabah. Beragam bentuk dan jenis produk yang bisa dibuat menjadi salah satu alasan dirinya tidak mudah merasa bosan.
Baginya, setiap gerabah memiliki proses dan bentuk yang berbeda.
Selama puluhan tahun menjadi pengrajin, berbagai pengalaman suka dan duka juga telah dilaluinya.
Salah satu persoalan yang sering dihadapi adalah ketika musim hujan tiba.
Gerabah yang belum selesai dibakar bisa rusak apabila terkena hujan. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pengrajin karena proses pengeringan dan pembakaran membutuhkan kondisi yang mendukung.
“Rasanya susah sekali, sedih. Lagi mbakar, belum saatnya matang, eh turun hujan. Karena nggak ada atapnya ya, jadi tiap musim hujan banyak yang rusak. Tapi sekarang sudah ada tempat pembakaran seperti ini, sudah enak, bisa mbakar kapan saja” Kata Sarmo.
Dari berjualan keliling hingga punya lima karyawan
Usaha yang dirintis secara sederhana tersebut perlahan berkembang.
Mbah Sarmo kini tidak lagi harus berkeliling menggunakan sepeda untuk menjajakan gerabah seperti pada masa awal merintis usaha.
Produksinya juga semakin besar dengan dukungan lima orang karyawan.
Pasarnya pun semakin luas. Selain memasok gerabah ke sejumlah toko, Mbah Sarmo kini memiliki pelanggan tetap dari berbagai daerah.
Gerabah produksinya diambil oleh pelanggan dari Magelang, Wates, hingga Jepara.
Perjalanan tersebut menunjukkan bagaimana usaha yang awalnya dikerjakan secara sederhana bersama pasangan dapat berkembang ketika terus ditekuni.
Produknya beragam, pot bunga paling banyak diminati
Berbagai jenis gerabah dibuat di tempat Mbah Sarmo.
Produk berukuran besar berupa guci. Selain itu, ada pula padasan atau tempat wudu, berbagai perabot dapur, hingga pot bunga dengan beragam ukuran.
Dari berbagai produk tersebut, pot bunga menjadi salah satu yang paling banyak diminati saat ini.
Meningkatnya minat masyarakat terhadap tanaman hias ikut mendorong permintaan terhadap pot gerabah.
Kondisi tersebut menjadi peluang bagi pengrajin untuk menyesuaikan produk dengan kebutuhan pasar tanpa meninggalkan ciri khas kerajinan tradisional.
Pengrajin gerabah semakin berkurang
Di balik perkembangan usaha miliknya, Mbah Sarmo menyimpan kekhawatiran.
Menurutnya, jumlah warga Gebangsari yang masih menekuni pembuatan gerabah semakin sedikit.
Padahal, ia menilai pekerjaan sebagai pengrajin sebenarnya masih bisa menjadi sumber penghasilan apabila ditekuni dengan serius.
Ia juga mengingat masa ketika hampir seluruh warga desa terlibat dalam produksi gerabah.
“Dulu, hampir semuanya (warga desa) produksi gerabah. Penjualannya juga bagus, apalagi kalau bulan puasa. Biasanya ke daerah pantai gitu buat jualan keren (tungku tradisional), dandang, kendi, sama perabotan lainnya” ungkap Sarmo sambal matanya menerawang ke masa lalu, “tapi sekarang kok dilihat-lihat gerabah semakin hilang, yang bikin semakin berkurang” pungkasnya.
Berkurangnya pengrajin bukan hanya berarti semakin sedikit orang yang membuat gerabah. Jika tidak ada generasi penerus, keterampilan yang diwariskan selama puluhan tahun juga berisiko ikut menghilang.
Mbah Sarmo ingin anak muda meneruskan gerabah
Karena itu, Mbah Sarmo berharap masih ada masyarakat, terutama generasi muda, yang bersedia mempelajari pembuatan gerabah.
Menurutnya, pekerjaan sebagai pengrajin tidak perlu dipandang sebelah mata. Selain merupakan pekerjaan yang halal, kerajinan gerabah juga dapat menjadi sumber penghasilan.
Ia juga berharap semakin banyak pihak yang ikut mempromosikan produk gerabah Gebangsari sehingga dikenal lebih luas.
Jika pasar semakin berkembang, permintaan terhadap produk gerabah diharapkan ikut meningkat. Pada akhirnya, kondisi tersebut dapat memberikan tambahan pemasukan bagi para pengrajin sekaligus masyarakat Desa Gebangsari.
Pesan Mbah Sarmo kepada anak muda pun sederhana: jangan sampai kerajinan yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Gebangsari hilang begitu saja.
“Saya juga berharap anak muda mau belajar bikin gerabah, jadi pengrajin gerabah, agar kerajinan ini tidak hilang, tidak punah. Ada penerusnya lah, begitu. Tidak perlu malu jadi pengrajin gerabah. Toh ini pekerjaan yang halal, bisa buat mata pencaharian juga” pesan Mbah Sarmo kepada kawula muda.
Menjaga gerabah berarti menjaga cerita kampung
Perjalanan Mbah Sarmo menunjukkan bahwa sebuah kerajinan tradisional tidak hanya berbicara tentang produk.
Di balik sebuah guci, pot bunga, padasan, atau perabot dapur, ada keterampilan, pengalaman, dan perjalanan hidup pengrajinnya.
Selama puluhan tahun, Mbah Sarmo telah menjadi bagian dari perjalanan gerabah Gebangsari. Dari berkeliling menjajakan hasil produksi dengan sepeda hingga memiliki pelanggan dari luar daerah, ia membuktikan bahwa kerajinan tradisional masih memiliki peluang untuk bertahan.
Kini tantangannya adalah memastikan ada generasi berikutnya yang mau belajar dan meneruskannya.
Sebab, jika semakin banyak anak muda tertarik menjadi pengrajin, gerabah Gebangsari bukan hanya dapat bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga memiliki peluang berkembang menjadi sumber ekonomi kreatif masyarakat desa. (BK/Yog)
-----------------------------
Ikuti BeritaKebumen

