KEBUMEN, beritakebumen.co.id - Jamjaneng merupakan salah satu kesenian tradisional yang masih bertahan di Desa Jatimalang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Kesenian yang memadukan musik tradisional dengan lantunan shalawat dan puji-pujian ini menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat yang perlu dijaga keberlangsungannya. Pada 12 September 2026, mahasiswa MBKM Universitas Sebelas Maret (UNS) Kampus Kebumen mengenal lebih dekat kesenian tersebut, termasuk nilai-nilai yang terkandung dan tantangan pelestariannya di tengah perubahan zaman.
-----------------------------
Ikuti BeritaKebumen
Jamjaneng tidak sekadar menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga mengandung pesan keagamaan. Melalui lantunan shalawat dan puji-pujian, kesenian ini mengajak masyarakat untuk memperbanyak ibadah dan mengingat Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai tersebut menjadikan Jamjaneng sebagai kesenian yang memiliki makna penting bagi kehidupan masyarakat setempat.
Di Desa Jatimalang, Kabupaten Kebumen, kesenian Jamjaneng kembali aktif setelah sebelumnya sempat berhenti. Kelompok yang kini melestarikannya bernama Lukito Jati Budiyo dengan jumlah anggota sekitar 14–15 orang. Pertunjukannya menggunakan berbagai alat musik tradisional, seperti gendang, tipung, cemeng, gong, kecrik, dan kempul. Jamjaneng biasanya ditampilkan dalam kegiatan masyarakat, seperti pernikahan, sadranan, dan peringatan hari besar Islam.
Seiring perkembangan zaman, Jamjaneng juga mengalami penyesuaian dalam penyajiannya. Beberapa lagu dibawakan dengan cengkok yang lebih mengikuti perkembangan musik saat ini. Meskipun demikian, lagu-lagu inti tetap dipertahankan agar ciri khas kesenian tersebut tidak hilang. Penyesuaian ini menjadi salah satu upaya agar Jamjaneng tetap menarik dan dapat dinikmati oleh berbagai kalangan.
Meski masih bertahan, Jamjaneng menghadapi tantangan dalam menarik minat generasi muda. Anggota kelompok saat ini lebih banyak berusia 40–50 tahun, sedangkan keterlibatan anak muda dalam latihan masih terbatas. Anggapan bahwa janengan merupakan kesenian kuno serta rasa malu untuk berlatih menjadi beberapa kendala dalam proses regenerasi.
Padahal, generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi. Pengenalan Jamjaneng sejak dini, kesempatan untuk belajar bersama, dan dukungan lingkungan dapat membantu menumbuhkan ketertarikan mereka terhadap kesenian lokal. Selain itu, media sosial dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan Jamjaneng kepada masyarakat yang lebih luas. Saat ini, dokumentasi kegiatan kelompok masih lebih banyak dibagikan melalui status WhatsApp dan belum memiliki akun media sosial resmi.
Upaya mempertahankan Jamjaneng juga didukung oleh pemerintah desa melalui bantuan peralatan musik. Dukungan masyarakat yang positif turut memberikan semangat kepada para anggota untuk terus melestarikan kesenian tersebut. Meskipun jadwal latihan menyesuaikan keadaan dan kegiatan pertunjukan, kelompok Lukito Jati Budiyo tetap menjadi bagian penting dalam menjaga keberadaan Jamjaneng di Desa Jatimalang, Kabupaten Kebumen.
Keberadaan Jamjaneng di Desa Jatimalang, Kabupaten Kebumen, menunjukkan bahwa tradisi lokal memiliki nilai yang lebih dari sekadar pertunjukan seni. Di dalamnya terdapat pesan keagamaan, kebersamaan, dan identitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Namun, keberlangsungannya membutuhkan perhatian bersama, terutama untuk meningkatkan keterlibatan generasi muda.
Dengan dukungan masyarakat, pemerintah desa, dan pemanfaatan media digital, Jamjaneng diharapkan tetap hidup tanpa kehilangan ciri khasnya. Menjaga Jamjaneng bukan hanya tentang mempertahankan kesenian masa lalu, melainkan juga memastikan bahwa warisan budaya tersebut tetap dikenal, dipelajari, dan diwariskan kepada generasi berikutnya di tengah perubahan zaman.
Ikuti BeritaKebumen



