KEBUMEN, beritakebumen.co.id - Upaya pembinaan kemandirian warga binaan di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Kebumen mulai menunjukkan hasil nyata. Melalui program pelatihan pengolahan serat pelepah pisang yang digagas bersama PT Agrominafiber Jawa Indonesia, warga binaan tidak hanya dibekali keterampilan teknis, tetapi juga diperkenalkan pada sistem produksi yang berorientasi pasar global.
Program ini menjadi contoh bagaimana lembaga pemasyarakatan dapat berperan aktif dalam menciptakan peluang ekonomi berkelanjutan, sekaligus membuka jalan reintegrasi sosial bagi warga binaan setelah bebas nanti. Dengan target produksi mencapai 3 ton per bulan dan dukungan berbagai pihak, termasuk Pertamina dan lembaga pendamping, Rutan Kebumen kini mulai dilirik sebagai model pemberdayaan berbasis industri ramah lingkungan. Inisiatif ini juga memperlihatkan pergeseran paradigma pembinaan pemasyarakatan, dari sekadar pembinaan internal menuju penguatan kapasitas ekonomi yang berdampak luas bagi masyarakat.
Pelatihan Serat Pelepah Pisang Tunjukkan Hasil Positif
Program pelatihan pengolahan serat pelepah pisang yang dijalankan di Rutan Kelas IIB Kebumen mulai memperlihatkan perkembangan menggembirakan. Dalam kunjungan evaluasi yang dilakukan pada Senin (26/1/2026), Direktur Pemasaran PT Agrominafiber Jawa Indonesia, Profita Hermawan, menyampaikan apresiasinya terhadap keseriusan para warga binaan. Ia menilai peserta pelatihan menunjukkan komitmen tinggi dalam setiap tahapan produksi, mulai dari pengolahan bahan baku hingga menjaga kerapian hasil akhir.
“Alhamdulillah, dari workshop pertama kami sudah melihat hasil nyata. Warga binaan bekerja dengan sangat serius, tidak asal-asalan. Dari sisi kualitas, sebagian besar produk juga sudah cukup rapi,” ujar Profita.
Saat ini, sekitar 60 persen produk yang dihasilkan telah memenuhi standar perusahaan. Sisanya masih membutuhkan pemantapan teknik agar kualitasnya lebih konsisten dan siap bersaing di pasar.
Pendampingan Berkelanjutan dan Prinsip Zero Waste
Tidak berhenti pada pelatihan awal, PT Agrominafiber Jawa Indonesia menerapkan sistem pendampingan berkala bagi warga binaan. Tim teknis secara rutin melakukan evaluasi setiap dua minggu sekali untuk memastikan kualitas produksi tetap terjaga. Pendampingan ini difokuskan pada penguasaan teknik produksi, peningkatan kerapian, serta pengelolaan bahan baku secara efisien dengan prinsip zero waste product.
Sebagai bentuk keseriusan kerja sama, dalam waktu satu minggu pascapelatihan, PT Agrominafiber telah menyalurkan sekitar 1 ton bahan baku ke Rutan Kebumen. Ke depan, jumlah tersebut akan terus ditingkatkan secara bertahap sesuai dengan kapasitas produksi warga binaan. Dalam skala bisnis, kebutuhan bahan baku perusahaan saat ini mencapai 15 ton, dengan rencana 30 persen pasokan berasal dari hasil produksi warga binaan Rutan Kebumen.
Dukungan Pertamina dan Mitra Perkuat Dampak Sosial
Program pemberdayaan ini juga mendapat perhatian dari pihak eksternal. Rutan Kelas IIB Kebumen menerima kunjungan asesor Program Pertapreneur Aggregator Pertamina, Imam Subhan dan Hamid Bima. Kunjungan tersebut bertujuan memastikan kolaborasi antara Rutan Kebumen dan Agromina berjalan sesuai standar bisnis berkelanjutan.
“Hari ini kami hadir karena salah satu peserta Pertapreneur Aggregator Pertamina, yakni Agromina, bekerja sama dengan Rutan Kebumen. Kami ingin memastikan bahwa bisnis yang dijalankan tidak hanya berorientasi keuntungan, tetapi juga menghadirkan dampak nyata,” ujar Imam Subhan.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan bisnis saat ini tidak hanya diukur dari profit, melainkan juga dari kontribusi sosial dan keberlanjutan ekonomi. Pendampingan dari Pertamina sendiri akan berlangsung selama enam bulan penuh untuk memastikan implementasi Business Improvement Plan berjalan konsisten. Bekal Keterampilan untuk Masa Depan Warga Binaan.
.jpeg)
Kepala Rutan Kelas IIB Kebumen, Pramu Sapta, menyebut program ini sebagai langkah strategis dalam pembinaan kemandirian warga binaan. Menurutnya, meski kerja sama ini belum berjalan lama, respons yang ditunjukkan sangat positif, baik dari sisi bisnis maupun dampak sosial.
Program ini menjadi contoh bagaimana lembaga pemasyarakatan dapat berperan aktif dalam menciptakan peluang ekonomi berkelanjutan, sekaligus membuka jalan reintegrasi sosial bagi warga binaan setelah bebas nanti. Dengan target produksi mencapai 3 ton per bulan dan dukungan berbagai pihak, termasuk Pertamina dan lembaga pendamping, Rutan Kebumen kini mulai dilirik sebagai model pemberdayaan berbasis industri ramah lingkungan. Inisiatif ini juga memperlihatkan pergeseran paradigma pembinaan pemasyarakatan, dari sekadar pembinaan internal menuju penguatan kapasitas ekonomi yang berdampak luas bagi masyarakat.
Pelatihan Serat Pelepah Pisang Tunjukkan Hasil Positif
Program pelatihan pengolahan serat pelepah pisang yang dijalankan di Rutan Kelas IIB Kebumen mulai memperlihatkan perkembangan menggembirakan. Dalam kunjungan evaluasi yang dilakukan pada Senin (26/1/2026), Direktur Pemasaran PT Agrominafiber Jawa Indonesia, Profita Hermawan, menyampaikan apresiasinya terhadap keseriusan para warga binaan. Ia menilai peserta pelatihan menunjukkan komitmen tinggi dalam setiap tahapan produksi, mulai dari pengolahan bahan baku hingga menjaga kerapian hasil akhir.
“Alhamdulillah, dari workshop pertama kami sudah melihat hasil nyata. Warga binaan bekerja dengan sangat serius, tidak asal-asalan. Dari sisi kualitas, sebagian besar produk juga sudah cukup rapi,” ujar Profita.
Saat ini, sekitar 60 persen produk yang dihasilkan telah memenuhi standar perusahaan. Sisanya masih membutuhkan pemantapan teknik agar kualitasnya lebih konsisten dan siap bersaing di pasar.
Pendampingan Berkelanjutan dan Prinsip Zero Waste
Tidak berhenti pada pelatihan awal, PT Agrominafiber Jawa Indonesia menerapkan sistem pendampingan berkala bagi warga binaan. Tim teknis secara rutin melakukan evaluasi setiap dua minggu sekali untuk memastikan kualitas produksi tetap terjaga. Pendampingan ini difokuskan pada penguasaan teknik produksi, peningkatan kerapian, serta pengelolaan bahan baku secara efisien dengan prinsip zero waste product.
Sebagai bentuk keseriusan kerja sama, dalam waktu satu minggu pascapelatihan, PT Agrominafiber telah menyalurkan sekitar 1 ton bahan baku ke Rutan Kebumen. Ke depan, jumlah tersebut akan terus ditingkatkan secara bertahap sesuai dengan kapasitas produksi warga binaan. Dalam skala bisnis, kebutuhan bahan baku perusahaan saat ini mencapai 15 ton, dengan rencana 30 persen pasokan berasal dari hasil produksi warga binaan Rutan Kebumen.
Dukungan Pertamina dan Mitra Perkuat Dampak Sosial
Program pemberdayaan ini juga mendapat perhatian dari pihak eksternal. Rutan Kelas IIB Kebumen menerima kunjungan asesor Program Pertapreneur Aggregator Pertamina, Imam Subhan dan Hamid Bima. Kunjungan tersebut bertujuan memastikan kolaborasi antara Rutan Kebumen dan Agromina berjalan sesuai standar bisnis berkelanjutan.
“Hari ini kami hadir karena salah satu peserta Pertapreneur Aggregator Pertamina, yakni Agromina, bekerja sama dengan Rutan Kebumen. Kami ingin memastikan bahwa bisnis yang dijalankan tidak hanya berorientasi keuntungan, tetapi juga menghadirkan dampak nyata,” ujar Imam Subhan.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan bisnis saat ini tidak hanya diukur dari profit, melainkan juga dari kontribusi sosial dan keberlanjutan ekonomi. Pendampingan dari Pertamina sendiri akan berlangsung selama enam bulan penuh untuk memastikan implementasi Business Improvement Plan berjalan konsisten. Bekal Keterampilan untuk Masa Depan Warga Binaan.
.jpeg)
Kepala Rutan Kelas IIB Kebumen, Pramu Sapta, menyebut program ini sebagai langkah strategis dalam pembinaan kemandirian warga binaan. Menurutnya, meski kerja sama ini belum berjalan lama, respons yang ditunjukkan sangat positif, baik dari sisi bisnis maupun dampak sosial.
“Bismillah, Alhamdulillahirrahmanirrahim. Meski kerja sama ini belum genap satu bulan, responsnya sangat positif. Bahkan, dari pihak Agromina melihat prospeknya sangat baik, baik dari sisi bisnis maupun dampak sosial,” ungkap Pramu Sapta.
Ia berharap, keterampilan yang diperoleh warga binaan dapat menjadi bekal nyata saat mereka kembali ke masyarakat. Program ini juga didukung asesmen ketat terhadap peserta, meliputi perilaku, jenis perkara, serta kesiapan mengikuti kegiatan, guna menjaga kualitas dan keberlanjutan produksi serat pelepah pisang yang ramah lingkungan dan bernilai ekspor.(BK/*)
Sumber.
-----------------------------
Ikuti BeritaKebumen
Sumber.
-----------------------------
Ikuti BeritaKebumen
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)