KEBUMEN, beritakebumen.co.id - Di tengah geliat pariwisata yang
semakin berkembang di berbagai daerah, sebuah desa di Kecamatan
Adimulyo, Kabupaten Kebumen, tampil dengan konsep yang berbeda. Desa
Wisata Temanggal tidak hanya menawarkan kunjungan biasa, tetapi juga
pengalaman edukatif yang membumi dan sarat nilai budaya. Sejak 2021,
desa ini dikenal sebagai Kampung Cucur, sebuah identitas yang lahir dari
tradisi warganya yang secara turun-temurun memproduksi kue cucur.
Sebanyak 16 warga masih aktif memproduksi cucur hingga saat ini. Salah satunya adalah Ibu Rasiyati, yang sudah 25 tahun menekuni usaha tersebut. Setiap hari, ia mulai memasak sejak pukul 01.00 atau 02.00 dini hari dan mampu menghasilkan sekitar 300 cucur.
“Sudah puluhan tahun saya membuat cucur. Biasanya mulai dini hari supaya pagi sudah siap dijual ke pasar,” ujar Rasiyati.
Cucur buatan warga Temanggal dipasarkan ke sejumlah pasar seperti Pasar Petanahan, Kebumen, hingga Karanganyar. Bahan-bahan yang digunakan cukup sederhana, yakni tepung beras, tepung terigu, gula merah, dan vanili untuk menambah aroma harum. Menariknya, warga memaknai cucur sebagai akronim dari “Rezeki yang selalu mengucur”.
Setiap hari, ribuan cucur dibuat dari dapur-dapur sederhana warga dan dipasarkan ke berbagai pasar tradisional di Kebumen.
Bukan sekadar jajanan, cucur di Temanggal menjadi simbol keberlanjutan
tradisi, kerja keras, dan kebersamaan masyarakat desa. Kini, konsep
tersebut dikemas menjadi wisata edukasi yang menarik perhatian sekolah
maupun wisatawan keluarga.
Sebanyak 16 warga masih aktif memproduksi cucur hingga saat ini. Salah satunya adalah Ibu Rasiyati, yang sudah 25 tahun menekuni usaha tersebut. Setiap hari, ia mulai memasak sejak pukul 01.00 atau 02.00 dini hari dan mampu menghasilkan sekitar 300 cucur.
“Sudah puluhan tahun saya membuat cucur. Biasanya mulai dini hari supaya pagi sudah siap dijual ke pasar,” ujar Rasiyati.
Cucur buatan warga Temanggal dipasarkan ke sejumlah pasar seperti Pasar Petanahan, Kebumen, hingga Karanganyar. Bahan-bahan yang digunakan cukup sederhana, yakni tepung beras, tepung terigu, gula merah, dan vanili untuk menambah aroma harum. Menariknya, warga memaknai cucur sebagai akronim dari “Rezeki yang selalu mengucur”.
