Data lonjakan pernikahan di Kebumen 2026 menunjukkan angka yang cukup signifikan. Hingga akhir Syawal 1447 Hijriah, tercatat sebanyak 1.021 peristiwa pernikahan terjadi di seluruh wilayah kabupaten.
Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag Kebumen, Makruf Widodo, menjelaskan bahwa angka tersebut masih bersifat dinamis dan berpotensi bertambah.
“Jumlah ini bisa terus naik sampai akhir Syawal. Memang terjadi peningkatan cukup tajam dibanding bulan sebelumnya,” ujarnya.
Dari total tersebut, mayoritas pasangan memilih layanan nikah di luar kantor atau yang dikenal sebagai layanan bedol.
Layanan Bedol Masih Jadi Pilihan Utama
Sebanyak 909 pasangan memilih akad nikah di luar kantor, baik di rumah maupun gedung. Sementara itu, hanya 112 pasangan yang melangsungkan akad di Kantor Urusan Agama (KUA).
Fenomena tren nikah di luar KUA Kebumen ini masih dipengaruhi tradisi keluarga serta keinginan menggelar acara di lingkungan sendiri.
Fenomena lonjakan pernikahan bulan Syawal di Kebumen menjadi pola tahunan yang terus berulang. Tingginya angka pernikahan pasca-Idulfitri dipengaruhi faktor budaya, kesiapan finansial, serta momentum berkumpulnya keluarga besar. Selain itu, layanan nikah bedol di Kebumen yang fleksibel juga menjadi alasan utama masyarakat memilih akad di luar kantor KUA. Kondisi ini sekaligus menjadi indikator meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap layanan Kementerian Agama.
Sebaran pernikahan terjadi di seluruh 26 kecamatan. Kecamatan Kebumen mencatat angka tertinggi dengan 124 peristiwa, disusul Sempor 74, Alian 70, dan Ambal 67 pernikahan.
Wilayah lain seperti Karanggayam mencatat 60 peristiwa, sementara Puring dan Rowokele masing-masing 50 pernikahan.
Padatnya jadwal pernikahan membuat para penghulu harus bekerja ekstra. Makruf Widodo bahkan mengingatkan agar seluruh petugas tetap menjaga semangat dalam melayani masyarakat.
“Kami mendorong penghulu tetap semangat, bahkan harus ‘gaspol’ karena ini momentum pelayanan terbaik,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Kantor Kemenag Kebumen, Anif Solikhin, menegaskan bahwa tingginya angka pernikahan harus diimbangi dengan kualitas layanan yang optimal.
“Ini bukan hanya administrasi, tetapi bagian dari pelayanan keagamaan yang langsung menyentuh kehidupan masyarakat,” tegasnya.
Momentum Syawal ini diharapkan tidak hanya menjadi waktu meningkatnya jumlah pernikahan, tetapi juga menjadi awal terbentuknya keluarga yang harmonis dan berkualitas di Kebumen. (BK/*)
-----------------------------
Ikuti BeritaKebumen
