KEBUMEN, beritakebumen.co.id - Seorang pria berinisial W (42), warga Desa Banjarejo, Kecamatan Puring, Kabupaten Kebumen, meninggal dunia setelah diduga terjatuh dari pohon kelapa setinggi sekitar 20 meter saat mengambil nira pada Sabtu (25/7/2026). Hasil pemeriksaan kepolisian memastikan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban, sehingga peristiwa tersebut diduga murni merupakan kecelakaan kerja.
Peristiwa nahas itu terjadi di pekarangan milik Tarjo yang berada di Dukuh Kunjeng, Desa Banjarejo. Setelah menerima laporan, petugas dari Polsek Puring bersama Tim Inafis Polres Kebumen langsung mendatangi lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan mengumpulkan keterangan dari para saksi.
Kapolres Kebumen AKBP I Putu Bagus Krisna Purnama menjelaskan, berdasarkan keterangan saksi, korban sejak pagi berada di atas pohon kelapa untuk menderes atau mengambil nira.
"Saat dua rekan korban datang sekitar pukul 09.00 WIB untuk bekerja bersama, korban masih berada di atas pohon sehingga mereka menunggu di halaman rumah hingga pekerjaannya selesai," ujar AKBP I Putu Bagus Krisna Purnama.
Sekitar pukul 09.30 WIB, salah seorang saksi mendengar suara benda jatuh. Namun, saat itu suara tersebut tidak langsung menimbulkan kecurigaan. Baru sekitar pukul 10.00 WIB, seorang saksi lain mendatangi sumber suara dan mendapati korban sudah tergeletak di tanah dalam posisi tengkurap.
Warga yang mengetahui kejadian itu segera berdatangan untuk memberikan pertolongan sekaligus melaporkannya kepada pemerintah desa dan Polsek Puring.
Polisi Temukan Sabit dan Bercak Darah di Lokasi
Hasil olah TKP menunjukkan korban diduga terjatuh saat sedang memanjat pohon kelapa. Di sekitar lokasi, petugas menemukan bercak darah serta sebuah sabit yang diduga digunakan korban untuk bekerja.
Selain itu, petugas juga mengukur tinggi pohon kelapa yang diperkirakan mencapai sekitar 20 meter. Sementara posisi tubuh korban ditemukan berjarak kurang lebih 2,1 meter dari pangkal pohon.
Pemeriksaan medis mengungkap korban mengalami sejumlah luka berat akibat benturan keras. Di antaranya patah tulang rahang, patah pergelangan tangan kiri, patah beberapa tulang rusuk, patah tulang paha kanan, patah tulang pada punggung kaki kiri, serta luka robek dan lecet di beberapa bagian tubuh.
Dari hasil pemeriksaan juga tidak ditemukan bekas jeratan di leher maupun tanda-tanda lain yang mengarah pada tindak pidana.
Keluarga Terima Kejadian sebagai Musibah
Dalam penanganan kasus tersebut, kepolisian melibatkan Tim Inafis Polres Kebumen, personel Samapta, Polsek Puring, tenaga medis dari Puskesmas Puring, serta pemerintah desa setempat.
Petugas melakukan serangkaian langkah mulai dari olah TKP, meminta keterangan para saksi, berkoordinasi dengan tenaga kesehatan, hingga mengamankan sejumlah barang bukti yang ditemukan di lokasi.
"Hasil pemeriksaan menunjukkan peristiwa ini merupakan musibah. Pihak keluarga menerima kejadian tersebut dan telah membuat surat pernyataan. Selanjutnya jenazah diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan," kata AKBP I Putu Bagus Krisna Purnama.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa aktivitas menderes nira di pohon kelapa memiliki risiko tinggi, terutama jika dilakukan pada pohon dengan ketinggian puluhan meter. Kewaspadaan serta penggunaan perlengkapan keselamatan menjadi hal penting untuk meminimalkan risiko kecelakaan kerja.
-----------------------------
Ikuti BeritaKebumen
Peristiwa nahas itu terjadi di pekarangan milik Tarjo yang berada di Dukuh Kunjeng, Desa Banjarejo. Setelah menerima laporan, petugas dari Polsek Puring bersama Tim Inafis Polres Kebumen langsung mendatangi lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan mengumpulkan keterangan dari para saksi.
Kapolres Kebumen AKBP I Putu Bagus Krisna Purnama menjelaskan, berdasarkan keterangan saksi, korban sejak pagi berada di atas pohon kelapa untuk menderes atau mengambil nira.
"Saat dua rekan korban datang sekitar pukul 09.00 WIB untuk bekerja bersama, korban masih berada di atas pohon sehingga mereka menunggu di halaman rumah hingga pekerjaannya selesai," ujar AKBP I Putu Bagus Krisna Purnama.
Sekitar pukul 09.30 WIB, salah seorang saksi mendengar suara benda jatuh. Namun, saat itu suara tersebut tidak langsung menimbulkan kecurigaan. Baru sekitar pukul 10.00 WIB, seorang saksi lain mendatangi sumber suara dan mendapati korban sudah tergeletak di tanah dalam posisi tengkurap.
Warga yang mengetahui kejadian itu segera berdatangan untuk memberikan pertolongan sekaligus melaporkannya kepada pemerintah desa dan Polsek Puring.
Polisi Temukan Sabit dan Bercak Darah di Lokasi
Hasil olah TKP menunjukkan korban diduga terjatuh saat sedang memanjat pohon kelapa. Di sekitar lokasi, petugas menemukan bercak darah serta sebuah sabit yang diduga digunakan korban untuk bekerja.
Selain itu, petugas juga mengukur tinggi pohon kelapa yang diperkirakan mencapai sekitar 20 meter. Sementara posisi tubuh korban ditemukan berjarak kurang lebih 2,1 meter dari pangkal pohon.
Pemeriksaan medis mengungkap korban mengalami sejumlah luka berat akibat benturan keras. Di antaranya patah tulang rahang, patah pergelangan tangan kiri, patah beberapa tulang rusuk, patah tulang paha kanan, patah tulang pada punggung kaki kiri, serta luka robek dan lecet di beberapa bagian tubuh.
Dari hasil pemeriksaan juga tidak ditemukan bekas jeratan di leher maupun tanda-tanda lain yang mengarah pada tindak pidana.
Keluarga Terima Kejadian sebagai Musibah
Dalam penanganan kasus tersebut, kepolisian melibatkan Tim Inafis Polres Kebumen, personel Samapta, Polsek Puring, tenaga medis dari Puskesmas Puring, serta pemerintah desa setempat.
Petugas melakukan serangkaian langkah mulai dari olah TKP, meminta keterangan para saksi, berkoordinasi dengan tenaga kesehatan, hingga mengamankan sejumlah barang bukti yang ditemukan di lokasi.
"Hasil pemeriksaan menunjukkan peristiwa ini merupakan musibah. Pihak keluarga menerima kejadian tersebut dan telah membuat surat pernyataan. Selanjutnya jenazah diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan," kata AKBP I Putu Bagus Krisna Purnama.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa aktivitas menderes nira di pohon kelapa memiliki risiko tinggi, terutama jika dilakukan pada pohon dengan ketinggian puluhan meter. Kewaspadaan serta penggunaan perlengkapan keselamatan menjadi hal penting untuk meminimalkan risiko kecelakaan kerja.
-----------------------------
Ikuti BeritaKebumen


