DomaiNesia

Saat Tetangga Tak Lagi Mengetuk Pintu

Saat Tetangga Tak Lagi Mengetuk Pintu

KEBUMEN, beritakebumen.co.id - Pernahkah kamu merasa kehilangan dua kali? Pertama, kehilangan orang terkasih. Kedua, kehilangan rasa kemanusiaan dari orang sekitar.

Rumah kami di kampung halaman,kebumen. Masih ramai oleh doa, bunga tabur di pusara masih basah. Sudah tujuh hari tahlil kami gelar, tetapi ada satu keluarga tetangga terdekat yang tak satu pun datang melayat.

Di kampung kami, rumah-rumah tidak berhimpitan. Halamannya luas, Pekarangannya lebar. Jarak antar rumah cukup jauh, tidak ada gang sempit seperti di kota. Cara kami bertetangga bukan lewat pagar, tapi lewat sapa di pinggir jalan.

Almarhumah ibu kami sama seperti warga kampung pada umumnya. Kalau pulang dari masjid atau berpapasan di jalan kampung, biasanya saling sapa dan ngobrol sebentar. Keluarga kami sangat dekat, kami sering bertukar makanan dan saling membantu dalam suka dan duka, keluarga yang kami hormati.

Saya secara pribadi tidak mengetahui alasan pastinya, saya tidak mendengar langsung dari mereka. Mungkin mereka sedang sakit atau memiliki keperluan mendesak yang tidak saya ketahui. Saya benar-benar tidak tahu.

Bagaimana Hukum Melayat dalam Aqidah Akhlak?


Dalam Islam hukum mengurus jenazah memiliki kedudukan yang jelas, yaitu fardu kifayah Meliputi memandikan, mengkafani, menyalatkan, dan menguburkan. Jika sudah ada yang melaksanakan, gugur kewajiban yang lain.

Adapun takziah, yaitu mendatangi keluarga duka untuk menghibur dan mendoakan, hukumnya sunah muakad atau sangat dianjurkan. Rasulullah SAW  bersabda, "Barang siapa melayat jenazah sampai menyalatkannya, maka baginya satu qirat. Dan barang siapa melayat sampai jenazah dimakamkan, maka baginya dua qirat" (H.R. Bukhari dan Muslim). Satu qirat sebesar Gunung Uhud.

Hak Tetangga.

 Rasulullah SAW bersabda bahwa Jibril terus-menerus berwasiat tentang pentingnya berbuat baik kepada tetangga. Jadi melayat bukan hanya soal adat kampung, tetapi melayat adalah ibadah, hak tetangga, dan ladang pahala yang besar.

Perspektif Pancasila. 

Jika ditarik ke Pancasila, peristiwa ini menyentuh intinya. Nilai ketuhanan mengajarkan kita memuliakan tetangga sebagai bagian dari ibadah. Nilai kemanusiaan yang adil dan beradab diuji bukan saat pesta, melainkan saat duka. 

Apakah kita masih beradab jika tetangga dekat berduka tapi kita diam?

Di kampung kami, rumah tidak berhimpitan dan halaman luas. Persatuan tidak dirawat lewat rapat RT di gang, melainkan lewat sapa di pinggir jalan dan kehadiran saat ada yang meninggal. Di situlah gotong royong yang menjadi sari pati Pancasila itu hidup. 

Ketika satu rumah tidak datang melayat padahal jaraknya dekat, yang hilang bukan hanya kehadiran, melainkan rasa persatuan itu sendiri.

Belakangan saya mendengar kabar bahwa beliau sedang kurang sehat. Jika benar, saya doakan semoga Allah SWT segera memberi kesembuhan.

Tulisan ini sama sekali bukan untuk menghakimi satu keluarga. Ketika satu rumah tidak datang melayat padahal jaraknya dekat, yang saya rasakan hanya kehilangan rasa persatuan itu.

Tulisan ini juga saya tulis bukan untuk menagih kehadiran, tapi untuk mengingatkan diri sendiri. Bahwa menjadi tetangga yang baik tidak harus menunggu rumah berhimpitan atau ada gang. Di kampung yang halamannya luas ini, cukup dengan sapa dan hadir saat duka. Semoga almarhumah ibu saya mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT dan semoga kita semua masih diberi kesempatan untuk menjadi tetangga yang mau mengetuk pintu saat yang lain sedang berduka.

Penulis: Etik Lailatul Badriyah, Mahasiswa UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, domisili Jakarta, asal Kebumen, Jawa Tengah.







-----------------------------
Ikuti BeritaKebumen
Previous Post Next Post