Usaha yang diberi nama Bakpia Green Kampoeng Bu Murto itu sudah berjalan sekitar empat tahun. Awalnya, Bu Murto mengikuti pelatihan pembuatan bakpia yang diadakan oleh Pemerintah Desa Jatimulyo. Dari situlah ia mulai mencoba mengembangkan resepnya sendiri.
“Awalnya saya belajar dari pelatihan desa, lalu mencoba-coba sampai menemukan rasa yang pas,” ujarnya.
Perjalanan tersebut tidak instan. Ia mengaku sempat beberapa kali gagal dalam menentukan tekstur kulit dan komposisi isian. Namun melalui proses uji coba berulang atau trial and error, kini bakpia buatannya memiliki rasa tersendiri.
Sebagai bagian dari Industri kecil, usaha ini masih diproduksi dalam skala rumahan. Sistem pemesanannya sebagian besar menggunakan metode pre-order. Meski begitu, sesekali Bu Murto juga menyiapkan stok terbatas untuk pembeli yang datang langsung.
Untuk daya tahan, bakpia produksi rumahan ini mampu bertahan sekitar 3 hingga 4 hari dalam kondisi penyimpanan normal. Soal varian rasa, pilihan yang ditawarkan cukup beragam. Mulai dari kacang hijau sebagai rasa klasik, keju, cokelat, matcha, alpukat, kumbu hitam, hingga ubi ungu.
Keberagaman rasa ini menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi generasi muda yang menyukai inovasi kuliner.
Meski Bakpia Jogja lebih dahulu populer dan memiliki pasar yang luas, Bu Murto tetap optimistis dengan produknya. Menurutnya, kualitas rasa dan konsistensi adalah kunci agar usaha kecil bisa bertahan.
“Walaupun Jogja sudah terkenal duluan, saya yakin bakpia buatan saya juga punya penggemarnya sendiri,” tuturnya.
Kehadiran industri rumahan di Petanahan ini sekaligus menunjukkan potensi besar sektor kuliner lokal di Kebumen. Dengan dukungan promosi dan penguatan branding, bukan tidak mungkin bakpia khas Kebumen bisa menjadi oleh-oleh unggulan dari wilayah selatan Jawa Tengah. (BK/Yog)
Kontak Person :
62 857-2539-2369 (Bu Murto)
-----------------------------
Ikuti BeritaKebumen
-----------------------------
Ikuti BeritaKebumen
