KEBUMEN, beritakebumen.co.id - Usaha ternak bebek rumahan dengan kandang sederhana ternyata mampu menghasilkan pendapatan yang menjanjikan. Hal ini dibuktikan oleh Ahmad Saiful Fatih, warga Karang Tanjung, Kecamatan Alian, yang akrab disapa Epeng. Berawal dari skala kecil di halaman rumah, ia kini mampu meraup penghasilan harian dari hasil penjualan telur bebek.
Epeng menceritakan, usahanya dimulai sekitar dua tahun lalu. Saat itu, ia mencoba beternak dengan fasilitas seadanya tanpa kandang modern. Meski sederhana, hasil yang didapat justru cukup stabil dan terus berkembang hingga sekarang.
Sebelum menekuni ternak bebek, Epeng sempat memelihara ayam. Namun, ia menilai risiko kematian ayam lebih tinggi, terutama saat terserang penyakit seperti flu burung. Dari pengalaman tersebut, ia kemudian beralih ke bebek yang dinilai lebih tahan terhadap penyakit.
“Kalau ayam, angka kematiannya tinggi. Setelah coba bebek, ternyata lebih aman dan lebih stabil,” ujarnya.
Ia pun mulai dengan membeli 17 ekor bebek sebagai percobaan. Target awalnya sederhana, jika minimal bertelur 10 butir, ia akan menambah jumlah ternak. Ternyata hasilnya melebihi ekspektasi.
“Awalnya cuma coba-coba, tapi ternyata yang bertelur lebih dari target. Akhirnya saya tambah lagi sampai sekitar 150 ekor,” jelasnya.
Dengan kandang yang masih tergolong sederhana dan sistem pemeliharaan rumahan, Epeng mampu memelihara sekitar lebih dari 180 ekor. Menariknya, seluruh bebek yang dipelihara merupakan betina tanpa pejantan, namun tetap produktif bertelur setiap hari.
Dari jumlah tersebut, ia bisa menghasilkan sekitar 130 butir telur per hari. Telur-telur itu kemudian dijual ke produsen telur asin yang siap menampung semua ukuran, sehingga tidak ada hasil yang terbuang.
Dari segi pendapatan, harga telur bebek saat ini berkisar antara Rp2.000 hingga Rp2.300 per butir. Dengan jumlah produksi tersebut, Epeng bisa memperoleh penghasilan sekitar Rp80 ribu hingga Rp100 ribu per hari.
Meski jumlah ternaknya cukup banyak, perawatannya tergolong mudah. Dalam sehari, ia hanya membutuhkan waktu kurang dari satu jam untuk memberi pakan, mengambil telur, dan mengganti air minum.
“Tidak sampai satu jam sudah selesai, paling setengah jam,” katanya.
Usaha ternak bebek rumahan ini menjadi contoh bahwa keterbatasan fasilitas bukan halangan untuk mendapatkan hasil maksimal. Dengan kandang sederhana dan tanpa teknologi modern, usaha ini tetap bisa berjalan dan menghasilkan secara konsisten.
Usaha ternak bebek rumahan kini menjadi salah satu peluang bisnis yang menjanjikan, terutama di wilayah pedesaan. Dengan modal relatif terjangkau, perawatan yang mudah, serta permintaan pasar terhadap telur bebek yang stabil, usaha ini cocok dijalankan oleh pemula yang ingin mendapatkan penghasilan tambahan dari rumah.
Meski tergolong mudah, Epeng mengakui tetap ada tantangan dalam beternak bebek, terutama terkait kesehatan ternak. Salah satu masalah yang sering terjadi adalah luka pada bagian dubur setelah bertelur akibat dipatuk bebek lain.
Selain itu, bebek yang sakit seperti mengalami “mata biru” seharusnya dipisahkan, meskipun keterbatasan kandang masih menjadi kendala.
Untuk pakan, ia memilih menggunakan pakan jadi agar lebih praktis. Sementara untuk vitamin tambahan, saat ini belum digunakan.
Bagi pemula, Epeng berpesan agar lebih teliti saat membeli bebek. Ia menyarankan memilih bebek yang sudah siap bertelur atau dikenal dengan istilah “bayah”.
“Ciri-cirinya sayap sudah mulai mengepak dan bagian duburnya turun. Itu tanda sudah mau bertelur,” jelasnya.
Selain itu, memastikan pasar juga menjadi hal penting sebelum memulai usaha, agar hasil ternak dapat terserap dengan baik.
Kini, dengan usaha yang terus berkembang meski masih dalam skala rumahan dan kandang sederhana, Epeng berencana menambah jumlah bebek di masa mendatang.
“Alhamdulillah hasilnya bagus. Ke depan saya ingin tambah lagi,” pungkasnya. (BK/Yog)
-----------------------------
Ikuti BeritaKebumen
Epeng menceritakan, usahanya dimulai sekitar dua tahun lalu. Saat itu, ia mencoba beternak dengan fasilitas seadanya tanpa kandang modern. Meski sederhana, hasil yang didapat justru cukup stabil dan terus berkembang hingga sekarang.
Awal Mula Beralih dari Ayam ke Bebek
Sebelum menekuni ternak bebek, Epeng sempat memelihara ayam. Namun, ia menilai risiko kematian ayam lebih tinggi, terutama saat terserang penyakit seperti flu burung. Dari pengalaman tersebut, ia kemudian beralih ke bebek yang dinilai lebih tahan terhadap penyakit.
“Kalau ayam, angka kematiannya tinggi. Setelah coba bebek, ternyata lebih aman dan lebih stabil,” ujarnya.
Ia pun mulai dengan membeli 17 ekor bebek sebagai percobaan. Target awalnya sederhana, jika minimal bertelur 10 butir, ia akan menambah jumlah ternak. Ternyata hasilnya melebihi ekspektasi.
“Awalnya cuma coba-coba, tapi ternyata yang bertelur lebih dari target. Akhirnya saya tambah lagi sampai sekitar 150 ekor,” jelasnya.
Perawatan Sederhana, Hasil Tetap Maksimal
Dengan kandang yang masih tergolong sederhana dan sistem pemeliharaan rumahan, Epeng mampu memelihara sekitar lebih dari 180 ekor. Menariknya, seluruh bebek yang dipelihara merupakan betina tanpa pejantan, namun tetap produktif bertelur setiap hari.
Dari jumlah tersebut, ia bisa menghasilkan sekitar 130 butir telur per hari. Telur-telur itu kemudian dijual ke produsen telur asin yang siap menampung semua ukuran, sehingga tidak ada hasil yang terbuang.
Dari segi pendapatan, harga telur bebek saat ini berkisar antara Rp2.000 hingga Rp2.300 per butir. Dengan jumlah produksi tersebut, Epeng bisa memperoleh penghasilan sekitar Rp80 ribu hingga Rp100 ribu per hari.
Meski jumlah ternaknya cukup banyak, perawatannya tergolong mudah. Dalam sehari, ia hanya membutuhkan waktu kurang dari satu jam untuk memberi pakan, mengambil telur, dan mengganti air minum.
“Tidak sampai satu jam sudah selesai, paling setengah jam,” katanya.
Usaha ternak bebek rumahan ini menjadi contoh bahwa keterbatasan fasilitas bukan halangan untuk mendapatkan hasil maksimal. Dengan kandang sederhana dan tanpa teknologi modern, usaha ini tetap bisa berjalan dan menghasilkan secara konsisten.
Usaha ternak bebek rumahan kini menjadi salah satu peluang bisnis yang menjanjikan, terutama di wilayah pedesaan. Dengan modal relatif terjangkau, perawatan yang mudah, serta permintaan pasar terhadap telur bebek yang stabil, usaha ini cocok dijalankan oleh pemula yang ingin mendapatkan penghasilan tambahan dari rumah.
Tantangan dan Tips untuk Pemula
Meski tergolong mudah, Epeng mengakui tetap ada tantangan dalam beternak bebek, terutama terkait kesehatan ternak. Salah satu masalah yang sering terjadi adalah luka pada bagian dubur setelah bertelur akibat dipatuk bebek lain.
Selain itu, bebek yang sakit seperti mengalami “mata biru” seharusnya dipisahkan, meskipun keterbatasan kandang masih menjadi kendala.
Untuk pakan, ia memilih menggunakan pakan jadi agar lebih praktis. Sementara untuk vitamin tambahan, saat ini belum digunakan.
Bagi pemula, Epeng berpesan agar lebih teliti saat membeli bebek. Ia menyarankan memilih bebek yang sudah siap bertelur atau dikenal dengan istilah “bayah”.
“Ciri-cirinya sayap sudah mulai mengepak dan bagian duburnya turun. Itu tanda sudah mau bertelur,” jelasnya.
Selain itu, memastikan pasar juga menjadi hal penting sebelum memulai usaha, agar hasil ternak dapat terserap dengan baik.
Kini, dengan usaha yang terus berkembang meski masih dalam skala rumahan dan kandang sederhana, Epeng berencana menambah jumlah bebek di masa mendatang.
“Alhamdulillah hasilnya bagus. Ke depan saya ingin tambah lagi,” pungkasnya. (BK/Yog)
-----------------------------
Ikuti BeritaKebumen
