DomaiNesia

Menelusuri Jejak Kartini dalam Ukir Jepara, Warisan Kriya yang Menembus Zaman

Menelusuri Jejak Kartini dalam Ukir Jepara, Warisan Kriya yang Menembus Zaman
Foto arsip perjalanan kesenian Japara yang dikenalkan RA Kartini dan saudaranya

Jepara, beritakebumen.co.id - Seni ukir Jepara kembali menjadi sorotan menjelang gelaran pameran bertajuk “TATAH 2026: Suluk - Sulur - Jepara”. Tak sekadar memamerkan karya, pameran ini mengangkat kembali jejak sejarah panjang yang menghubungkan kriya ukir dengan perjuangan dan gagasan Raden Ajeng Kartini.

Pameran yang akan digelar di Museum Nasional Indonesia pada 29 April hingga 5 Juli 2026 ini disusun berbasis riset historis mendalam. Pendekatan tersebut dilakukan untuk menghadirkan narasi yang tidak hanya estetis, tetapi juga autentik dan edukatif.

Salah satu peneliti yang terlibat, Susi Ernawati Susindra dari Rumah Kartini Jepara, menegaskan bahwa riset menjadi fondasi utama dalam penyelenggaraan pameran. “Riset bukan sekadar mengumpulkan data, tapi juga menggali jiwa dari pameran itu sendiri. Kualitas riset menentukan seberapa kuat pesan yang sampai ke pengunjung,” ujarnya.

Jejak Awal Kartini dan Pameran 1898


Hasil penelusuran terhadap ratusan surat keluarga Kartini mengungkap fakta menarik. Peran Kartini dalam pengembangan ekonomi kreatif ternyata sudah dimulai sejak usia muda, bahkan sebelum korespondensinya dikenal luas.

“Selama ini banyak yang mengira kisah Kartini dimulai dari surat-menyuratnya dengan tokoh Eropa. Padahal jauh sebelumnya, saat masih remaja, ia sudah menyiapkan pameran kriya perempuan,” jelas Susi.

Menelusuri Jejak Kartini dalam Ukir Jepara, Warisan Kriya yang Menembus Zaman
Surat Kartini yang di antaranya menceritakan kesenian ukir Jepara

Pada usia 19 tahun, Kartini menggagas pemberdayaan pengrajin di wilayah Jepara dan menyiapkan karya untuk dipamerkan dalam ajang De Nationale Tentoonstelling van Vrouwenarbeid di Den Haag pada 1898. Dalam pameran itu, Kartini bersama saudara-saudaranya menampilkan karya ukir dengan identitas sebagai perempuan Jawa.

“Mereka ingin menunjukkan bahwa perempuan Jawa mampu berkarya dan layak diperhitungkan di panggung dunia,” tambahnya.

Inovasi Motif hingga Tembus Panggung Internasional

Langkah Kartini dalam mengembangkan ukir Jepara tidak selalu berjalan mulus. Ia sempat menghadapi keraguan para pengrajin terkait penggunaan motif wayang yang dianggap tabu.

Namun dengan dukungan keluarga, terutama ayahnya, para pengrajin akhirnya berani bereksperimen. Hasilnya, karya ukir Jepara tidak hanya dikenal di Belanda, tetapi juga dipamerkan hingga ke Paris dan Osaka, Jepang.

Pameran di Osaka bahkan mencatat salah satu karya monumental berupa sketsel atau penyekat ruangan yang menjadi bukti kualitas tinggi ukir Jepara di mata dunia.

Peran Perempuan dalam Ekosistem Ukir

Sejarah juga mencatat bahwa perempuan memiliki peran penting dalam industri ukir Jepara. Dalam tradisi lokal, perempuan menjadi wajah depan dalam proses produksi, sementara laki-laki fokus pada pengerjaan teknis.

Menelusuri Jejak Kartini dalam Ukir Jepara, Warisan Kriya yang Menembus Zaman
tim riset TATAH 2026, Susi Ernawati Susindra dari Rumah Kartini Jepara (2)

Kini, peran tersebut semakin berkembang. Perempuan tidak hanya terlibat dalam proses dasar, tetapi juga menjadi desainer, pemasar, hingga pelaku usaha.

Susi mengisahkan salah satu pengukir perempuan yang terinspirasi oleh Kartini. “Saat ditanya kenapa ingin mengukir, jawabannya sederhana: ingin seperti Ibu Kartini yang punya karya,” tuturnya.

Dokumentasi dan Upaya Pelestarian

Sejumlah catatan sejarah mengenai teknik ukir Jepara juga berhasil dihimpun, termasuk dari arsip lama dan surat-surat Kartini. Dokumentasi ini mencakup proses teknis seperti menggambar pola, memahat, hingga tahap finishing.

Untuk memperkuat literasi, hasil riset tersebut akan dibukukan dan diluncurkan bersamaan dengan pameran. Langkah ini diharapkan dapat mengisi kekosongan referensi utama tentang seni ukir Jepara dari perspektif lokal.

Melalui pameran “TATAH 2026”, warisan ukir Jepara dihadirkan bukan hanya sebagai karya seni, tetapi juga sebagai narasi sejarah yang hidup. Sebuah bukti bahwa nilai-nilai yang diperjuangkan Kartini terus mengakar dan berkembang hingga kini. (BK/*)


-----------------------------
Ikuti BeritaKebumen
Previous Post Next Post