KEBUMEN, beritakebumen.co.id - Di tengah derasnya arus modernisasi, masyarakat Desa Watulawang, Kecamatan Pejagoan, Kabupaten Kebumen, masih menjaga sebuah tradisi warisan leluhur yang telah berlangsung turun-temurun. Tradisi tersebut dikenal dengan nama Suran Palakiyah, sebuah ritual adat yang menjadi simbol hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Tradisi yang hanya digelar setiap tiga tahun sekali ini kembali dilaksanakan pada Rabu, 24 Juni 2026. Meski biasanya dilangsungkan pada bulan Sura yang bertepatan dengan Jumat Kliwon, pelaksanaan tahun ini mengalami penyesuaian karena pada bulan Sura 2026 tidak terdapat Jumat Kliwon.
Bagi masyarakat setempat, Palakiyah bukan sekadar ritual budaya, melainkan bentuk ikhtiar bersama untuk menjaga keseimbangan kehidupan, keselamatan desa, serta kelestarian alam yang menjadi sumber penghidupan warga.
Prosesi Palakiyah dimulai dengan penyembelihan wedus kendit, yaitu kambing berwarna hitam dengan lingkaran putih di bagian bawah tubuhnya. Hewan ini memiliki makna simbolis dan menjadi bagian penting dalam rangkaian ritual.
Setelah disembelih, kepala kambing ditempatkan dalam wadah khusus yang dibuat dari bambu dan batang pisang yang dianyam. Sebelum kepala kambing diletakkan, wadah tersebut dilapisi kain mori sebanyak tujuh lapis, jumlah ganjil yang dipercaya memiliki makna tersendiri dalam tradisi adat setempat.
Kepala wedus kendit kemudian dibungkus menggunakan kain mori tersebut sebelum diarak menuju batas timur Desa Watulawang yang berbatasan dengan wilayah Peniron.
Sesampainya di lokasi, warga telah berkumpul sambil membawa berbagai makanan untuk kenduri bersama. Mereka duduk di tepi jalan menunggu prosesi penguburan yang dipimpin oleh salah satu sesepuh desa.
Dalam suasana khidmat, sesepuh melakukan penguburan kepala wedus kendit disertai doa-doa yang dipanjatkan untuk keselamatan dan kesejahteraan masyarakat desa.
Prosesi ini menjadi inti dari Suran Palakiyah yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Usai penguburan, warga melanjutkan kegiatan dengan kenduri bersama. Makanan yang dibawa berupa nasi, sayur, dan lauk sederhana yang sebelumnya didoakan terlebih dahulu.
Menariknya, menurut penuturan warga, makanan yang disajikan dalam kenduri tersebut dibuat dengan cita rasa yang cenderung hambar atau "anyeb". Hal itu memiliki makna filosofis sebagai simbol pengendalian dan penstabilan hawa nafsu manusia.
Tradisi unik lainnya adalah makanan yang tersisa boleh dibawa pulang, namun tidak diperkenankan masuk ke dalam rumah. Warga meyakini hal tersebut kurang sesuai dengan adat yang diwariskan leluhur. Karena itu, sisa makanan biasanya diberikan untuk pakan ternak.
Setelah prosesi Palakiyah selesai, rangkaian acara berlanjut dengan kegiatan Suran lingkungan. Warga berkumpul di rumah pusat kegiatan untuk berdoa bersama sebelum menyiapkan sesaji yang akan ditempatkan di seluruh batas wilayah Desa Watulawang.
Sesaji yang telah didoakan oleh sesepuh adat, Mbah Sankarta, kemudian dibagikan ke berbagai titik penjuru desa, mulai dari batas timur, selatan, barat, utara, hingga titik pusat desa.
Bagi masyarakat setempat, penyebaran sesaji ini menjadi simbol penjagaan wilayah dan ungkapan rasa syukur atas kehidupan yang diberikan oleh Tuhan.
Rangkaian ritual dilanjutkan dengan panyuwunan, yakni doa bersama yang dipanjatkan oleh warga. Setelah itu, warga yang mampu mengikuti kegiatan mubeng desa atau mengelilingi seluruh batas wilayah Desa Watulawang.
Perjalanan dimulai dari sisi timur, kemudian berlanjut ke selatan, barat, utara, kembali ke timur, dan berakhir di pusat desa.
Pada pelaksanaan tahun ini, kegiatan mubeng desa diikuti delapan orang warga. Mereka menempuh perjalanan sekitar tiga jam melewati medan yang cukup menantang, mulai dari perbukitan, jalan berbatu, tanjakan hingga turunan.
Meski demikian, perjalanan dilakukan dengan santai dan penuh kekhidmatan sebagai bagian dari penghormatan terhadap tradisi leluhur.
Suran Palakiyah menjadi bukti bahwa warisan budaya Jawa kuno masih hidup dan terjaga di tengah masyarakat modern. Tradisi ini bukan hanya tentang ritual adat, tetapi juga mencerminkan nilai kebersamaan, gotong royong, penghormatan terhadap alam, serta upaya menjaga identitas budaya lokal.
Hingga kini, masyarakat Desa Watulawang tetap mempertahankan tradisi tersebut sebagai warisan berharga yang menghubungkan generasi masa kini dengan jejak sejarah leluhur mereka. (BK/Yog)
-----------------------------
Ikuti BeritaKebumen
Tradisi yang hanya digelar setiap tiga tahun sekali ini kembali dilaksanakan pada Rabu, 24 Juni 2026. Meski biasanya dilangsungkan pada bulan Sura yang bertepatan dengan Jumat Kliwon, pelaksanaan tahun ini mengalami penyesuaian karena pada bulan Sura 2026 tidak terdapat Jumat Kliwon.
Bagi masyarakat setempat, Palakiyah bukan sekadar ritual budaya, melainkan bentuk ikhtiar bersama untuk menjaga keseimbangan kehidupan, keselamatan desa, serta kelestarian alam yang menjadi sumber penghidupan warga.
Tradisi Palakiyah Watulawang Diawali Penyembelihan Wedus Kendit
Prosesi Palakiyah dimulai dengan penyembelihan wedus kendit, yaitu kambing berwarna hitam dengan lingkaran putih di bagian bawah tubuhnya. Hewan ini memiliki makna simbolis dan menjadi bagian penting dalam rangkaian ritual.
Setelah disembelih, kepala kambing ditempatkan dalam wadah khusus yang dibuat dari bambu dan batang pisang yang dianyam. Sebelum kepala kambing diletakkan, wadah tersebut dilapisi kain mori sebanyak tujuh lapis, jumlah ganjil yang dipercaya memiliki makna tersendiri dalam tradisi adat setempat.
Kepala wedus kendit kemudian dibungkus menggunakan kain mori tersebut sebelum diarak menuju batas timur Desa Watulawang yang berbatasan dengan wilayah Peniron.
Penguburan Kepala Kambing di Batas Desa merupakan salah satu prosesi Tradisi Palakiyah Watulawang
Sesampainya di lokasi, warga telah berkumpul sambil membawa berbagai makanan untuk kenduri bersama. Mereka duduk di tepi jalan menunggu prosesi penguburan yang dipimpin oleh salah satu sesepuh desa.
Dalam suasana khidmat, sesepuh melakukan penguburan kepala wedus kendit disertai doa-doa yang dipanjatkan untuk keselamatan dan kesejahteraan masyarakat desa.
Prosesi ini menjadi inti dari Suran Palakiyah yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Kenduri dengan Makanan Tanpa Rasa di Tradisi Palakiyah Watulawang
Usai penguburan, warga melanjutkan kegiatan dengan kenduri bersama. Makanan yang dibawa berupa nasi, sayur, dan lauk sederhana yang sebelumnya didoakan terlebih dahulu.
Menariknya, menurut penuturan warga, makanan yang disajikan dalam kenduri tersebut dibuat dengan cita rasa yang cenderung hambar atau "anyeb". Hal itu memiliki makna filosofis sebagai simbol pengendalian dan penstabilan hawa nafsu manusia.
Tradisi unik lainnya adalah makanan yang tersisa boleh dibawa pulang, namun tidak diperkenankan masuk ke dalam rumah. Warga meyakini hal tersebut kurang sesuai dengan adat yang diwariskan leluhur. Karena itu, sisa makanan biasanya diberikan untuk pakan ternak.
Suran Lingkungan dan Penyebaran Sesaji di Tradisi Palakiyah Watulawang
Setelah prosesi Palakiyah selesai, rangkaian acara berlanjut dengan kegiatan Suran lingkungan. Warga berkumpul di rumah pusat kegiatan untuk berdoa bersama sebelum menyiapkan sesaji yang akan ditempatkan di seluruh batas wilayah Desa Watulawang.
Sesaji yang telah didoakan oleh sesepuh adat, Mbah Sankarta, kemudian dibagikan ke berbagai titik penjuru desa, mulai dari batas timur, selatan, barat, utara, hingga titik pusat desa.
Bagi masyarakat setempat, penyebaran sesaji ini menjadi simbol penjagaan wilayah dan ungkapan rasa syukur atas kehidupan yang diberikan oleh Tuhan.
Tradisi Palakiyah Watulawang, Panyuwunan dan Mubeng Desa Menempuh Medan Berat
Rangkaian ritual dilanjutkan dengan panyuwunan, yakni doa bersama yang dipanjatkan oleh warga. Setelah itu, warga yang mampu mengikuti kegiatan mubeng desa atau mengelilingi seluruh batas wilayah Desa Watulawang.
Perjalanan dimulai dari sisi timur, kemudian berlanjut ke selatan, barat, utara, kembali ke timur, dan berakhir di pusat desa.
Pada pelaksanaan tahun ini, kegiatan mubeng desa diikuti delapan orang warga. Mereka menempuh perjalanan sekitar tiga jam melewati medan yang cukup menantang, mulai dari perbukitan, jalan berbatu, tanjakan hingga turunan.
Meski demikian, perjalanan dilakukan dengan santai dan penuh kekhidmatan sebagai bagian dari penghormatan terhadap tradisi leluhur.
Tradisi Palakiyah Watulawang jadi Warisan Budaya yang Tetap Bertahan
Suran Palakiyah menjadi bukti bahwa warisan budaya Jawa kuno masih hidup dan terjaga di tengah masyarakat modern. Tradisi ini bukan hanya tentang ritual adat, tetapi juga mencerminkan nilai kebersamaan, gotong royong, penghormatan terhadap alam, serta upaya menjaga identitas budaya lokal.
Hingga kini, masyarakat Desa Watulawang tetap mempertahankan tradisi tersebut sebagai warisan berharga yang menghubungkan generasi masa kini dengan jejak sejarah leluhur mereka. (BK/Yog)
-----------------------------
Ikuti BeritaKebumen


.png)
.png)