BATANG, beritakebumen.co.id - Jumlah korban dugaan keracunan makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, mencapai 411 orang. Dari jumlah tersebut, sekitar 200 orang telah diperbolehkan kembali ke rumah setelah mendapatkan penanganan medis.
-----------------------------
Ikuti BeritaKebumen
Kasus tersebut kini tengah ditelusuri oleh Pemerintah Kabupaten Batang bersama Badan Gizi Nasional (BGN). Salah satu temuan awal dalam investigasi berkaitan dengan proses pengolahan makanan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bela Batang Sejahtera yang diduga tidak sesuai dengan waktu dalam Standar Operasional Prosedur (SOP).
Bupati Batang M. Faiz Kurniawan bersama perwakilan BGN Provinsi Jawa Tengah meninjau langsung dapur SPPG Bela Batang Sejahtera di Kecamatan Bawang, Kamis (24/9/2026).
Faiz mengatakan, pemerintah daerah memastikan seluruh korban mendapatkan pelayanan kesehatan secara maksimal. Pemkab Batang juga berupaya menyelesaikan persoalan administratif agar para korban dapat memperoleh penanganan medis.
Selain menanggung biaya perawatan korban, pemerintah daerah menyiapkan bantuan bagi keluarga yang harus mendampingi anggota keluarganya selama menjalani perawatan.
“Sebagian keluarga korban kemungkinan tidak dapat bekerja selama mendampingi anak atau anggota keluarganya yang sakit. Kita juga akan membantu keluarga korban, di mana nanti penunggu pasien karena terpaksa mungkin sehari dua hari ini mereka enggak bisa bekerja, karena ada anaknya keracunan atau bahkan mungkin orang tuanya keracunan,” jelasnya.
Pemerintah daerah melalui Dinas Sosial saat ini masih menghitung besaran bantuan tersebut. Santunan untuk keluarga yang mendampingi pasien diperkirakan berada pada kisaran Rp100 ribu hingga Rp150 ribu per hari untuk setiap keluarga korban.
Temukan Sejumlah Standar Belum Terpenuhi
Dalam peninjauan dapur SPPG, perwakilan BGN menemukan sejumlah standar yang dinilai belum terpenuhi. Temuan tersebut antara lain berkaitan dengan kondisi bangunan, seperti dinding yang belum solid serta beberapa bagian area dapur yang belum sesuai standar.
“Dalam peninjauan dapur SPPG, perwakilan BGN menemukan sejumlah standar yang dinilai belum terpenuhi. Di antaranya berkaitan dengan kondisi bangunan, seperti dinding yang belum solid serta beberapa bagian area dapur yang belum sesuai standar,” terangnya.
Faiz mengatakan temuan tersebut akan menjadi bahan evaluasi untuk menentukan keberlanjutan operasional SPPG Bela Batang Sejahtera. Untuk sementara, operasional SPPG tersebut telah dihentikan.
“Kalau memang dirasa tidak layak untuk melanjutkan pelayanan gizi kepada masyarakat, ya harus kita tutup secara permanen. Keputusan tersebut nantinya akan dibahas bersama BGN berdasarkan hasil evaluasi secara menyeluruh. Yang terpenting bagi kita adalah bagaimana ke depan mengevaluasi ini secara total dan kemudian masyarakat percaya pemerintah mampu memberikan pelayanan gizi kepada masyarakat,” tegasnya.
BGN Temukan Pengolahan Makanan Dimulai Lebih Awal
Sementara itu, Kepala KPPG Semarang Hadiriajaya mengatakan BGN telah melakukan investigasi awal setelah munculnya dugaan keracunan. Tim melakukan pengecekan kondisi bangunan dapur SPPG sekaligus memeriksa rekaman kamera pengawas atau CCTV.
“Kami juga melakukan investigasi awal. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Bupati, kemudian satgas, terutama Dinkes untuk melakukan investigasi pengambilan sampel makanan untuk dilakukan uji lab,” tuturnya.
Dari pemeriksaan awal melalui CCTV, BGN menemukan adanya proses pengolahan makanan yang dilakukan lebih awal dari waktu yang ditetapkan dalam SOP.
Menurut Hadiriajaya, proses pengolahan makanan terlihat telah dimulai sekitar pukul 19.30 WIB. Sementara berdasarkan SOP yang disebutkan dalam investigasi, pengolahan makanan seharusnya dilakukan setelah pukul 02.00 WIB dini hari.
Temuan tersebut menjadi salah satu bagian yang masih didalami untuk mengetahui apakah terdapat kaitannya dengan kejadian dugaan keracunan yang dialami ratusan orang.
Informasi mengenai temuan pengolahan makanan lebih awal tersebut juga dilaporkan dalam pemberitaan pada 24 September 2026.
Korban Tak Hanya Penerima Manfaat MBG
Hadiriajaya juga menyoroti karakteristik korban dalam kejadian tersebut. Para korban tidak hanya berasal dari kelompok penerima manfaat MBG, tetapi juga terdapat balita dan orang dewasa.
Kondisi itu masih perlu didalami karena terdapat kemungkinan makanan MBG dibawa pulang oleh penerima manfaat dan kemudian dikonsumsi oleh anggota keluarga lain yang bukan penerima manfaat.
“Dari jumlah korban yang terdampak ini cukup banyak, mulai dari balita, anak-anak, dan juga ada usia yang bukan penerima manfaat. Ini mungkin perlu kami dalami lagi karena memang ada kemungkinan makanan ini dibawa pulang oleh orang tua dari penerima manfaat yang tidak seharusnya menerima MBG,” ungkapnya.
Laporan lain pada hari yang sama juga menyebut korban berasal dari berbagai kelompok usia, termasuk anak-anak dan orang dewasa.
Sampel Makanan Diuji di Laboratorium
Untuk memastikan penyebab kejadian, tim kesehatan telah mengambil sampel makanan untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium.
Hasil uji laboratorium nantinya menjadi salah satu dasar dalam menentukan penyebab dugaan keracunan tersebut. Karena itu, temuan terkait proses pengolahan, kondisi bangunan, maupun penerapan SOP belum dapat secara langsung disimpulkan sebagai penyebab keluhan kesehatan para korban.
“Pemkab Batang bersama BGN memastikan evaluasi dilakukan secara menyeluruh, baik terhadap proses pengolahan, bangunan, penerapan SOP, maupun distribusi makanan, agar kejadian serupa tidak kembali terjadi,” pungkasnya.
Sementara itu, operasional SPPG Bela Batang Sejahtera telah dihentikan sementara selama proses evaluasi dan investigasi berlangsung. *
Ikuti BeritaKebumen


