KEBUMEN, beritakebumen.co.id - Di tengah berbagai jenis usaha peternakan, burung perkutut masih menjadi salah satu peluang usaha yang cukup menjanjikan. Hal itu dirasakan langsung oleh Ahmad Mudasir, seorang peternak perkutut asal Dukuh Tangkil, Desa Gemeksekti, Kabupaten Kebumen. Berawal dari sekadar hobi dan ikut-ikutan teman, kini ia justru menekuni usaha ternak burung perkutut dengan jumlah ratusan pasang.
Ahmad Mudasir mengaku mulai mencoba beternak perkutut sejak tahun 2014. Saat itu ia hanya membeli sekitar 10 pasang burung sebagai percobaan. Namun seiring waktu, ia melihat bahwa hobi tersebut ternyata bisa memberikan tambahan penghasilan.
“Awalnya cuma iseng ikut teman yang sudah duluan ternak perkutut. Setelah dihitung-hitung ternyata ada tambahan penghasilan juga, akhirnya saya tambah sedikit demi sedikit sampai sekarang sudah lebih dari 400 pasang,” ujarnya.
Menurut Ahmad, beternak burung perkutut sebenarnya tidak terlalu sulit. Perawatannya relatif sederhana dan bisa dilakukan sambil menjalankan aktivitas lain. Kunci utamanya, kata dia, adalah ketelatenan dan ketekunan dalam memantau kondisi burung.
“Yang penting telaten memantau. Kalau burung diperhatikan dengan baik, produksinya juga bisa lebih maksimal,” katanya.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya saling berbagi informasi dengan sesama peternak. Menurutnya, komunikasi antar peternak sangat membantu dalam mengatasi berbagai kendala yang mungkin muncul.
“Jangan menutup diri. Harus sering sharing dengan peternak lain supaya kalau ada masalah bisa saling membantu mencari solusi,” jelasnya.
Dalam hal kesehatan, Ahmad mengatakan burung perkutut relatif jarang terserang penyakit berat. Masalah yang paling sering muncul biasanya hanya cacingan. Gejalanya bisa dilihat dari perilaku burung yang cenderung diam dan kurang aktif.
Untuk mengatasinya, ia menggunakan obat cacing yang biasa digunakan manusia. Obat tersebut digerus, dicampur air, lalu diminumkan kepada burung.
“Biasanya dua jam setelah diberi obat, cacingnya akan keluar dari dubur burung,” ujarnya.
Sementara untuk pakan, Ahmad menggunakan campuran voer ayam, milet putih, dan beras merah. Air minum burung biasanya diganti setiap tiga hari sekali, sementara wadah minumnya dibersihkan jika sudah terlihat kotor.
Menurutnya, beternak perkutut tidak terlalu menyita tenaga karena perawatannya cukup sederhana. Bahkan pembersihan kandang atau sangkar pun tidak perlu terlalu sering.
“Sangkar biasanya dibersihkan sekitar setengah bulan sampai sebulan sekali. Kalau terlalu bersih justru burung bisa merasa tidak nyaman,” katanya.
Untuk proses pembiakan, anak burung biasanya dipisahkan dari induknya saat berusia sekitar 1,5 hingga 2 bulan. Dengan begitu, indukan bisa kembali bertelur.
Dalam satu tahun, sepasang induk perkutut bisa menghasilkan sekitar delapan hingga sepuluh kali telur. Jika ingin mempercepat proses produksi, Ahmad menggunakan metode bantuan burung puter sebagai induk asuh.
“Jadi setelah anak perkutut menetas, dipindah ke burung puter untuk dibesarkan. Dengan cara itu indukan perkutut bisa lebih cepat bertelur lagi,” jelasnya.
Meski jumlah ternak yang dimiliki sudah cukup banyak, Ahmad mengaku permintaan pasar masih belum sepenuhnya terpenuhi. Bahkan ia masih sering mengambil burung dari peternak lain untuk memenuhi permintaan pembeli.
Menurutnya, hubungan antar peternak perkutut lebih banyak diwarnai kerja sama dibandingkan persaingan.
“Kalau di dunia perkutut tidak ada istilah saingan. Justru kita saling mengisi,” ujarnya.
Saat ini, burung perkutut hasil ternaknya banyak dikirim ke berbagai daerah seperti Jabodetabek, Lampung, hingga Kalimantan. Pengiriman biasanya dilakukan sekitar dua kali dalam seminggu.
Dari berbagai jenis perkutut, Ahmad menyebut varian putih masih menjadi yang paling banyak dicari oleh pembeli. Selain itu ada juga jenis silver, Bangkok, dan beberapa varian lain.
“Yang paling laris biasanya yang putih. Permintaannya masih cukup tinggi,” katanya.
Bagi masyarakat yang ingin mencoba beternak perkutut, Ahmad menyarankan agar tidak ragu untuk belajar dari peternak lain. Dengan saling berbagi pengalaman, pemula bisa lebih cepat memahami dunia perkutut.
“Kalau sering sharing, kita jadi tidak mudah bosan dan bisa terus mendapatkan informasi baru tentang cara merawat perkutut,” pungkasnya.
-----------------------------
Ikuti BeritaKebumen
Ahmad Mudasir mengaku mulai mencoba beternak perkutut sejak tahun 2014. Saat itu ia hanya membeli sekitar 10 pasang burung sebagai percobaan. Namun seiring waktu, ia melihat bahwa hobi tersebut ternyata bisa memberikan tambahan penghasilan.
“Awalnya cuma iseng ikut teman yang sudah duluan ternak perkutut. Setelah dihitung-hitung ternyata ada tambahan penghasilan juga, akhirnya saya tambah sedikit demi sedikit sampai sekarang sudah lebih dari 400 pasang,” ujarnya.
Menurut Ahmad, beternak burung perkutut sebenarnya tidak terlalu sulit. Perawatannya relatif sederhana dan bisa dilakukan sambil menjalankan aktivitas lain. Kunci utamanya, kata dia, adalah ketelatenan dan ketekunan dalam memantau kondisi burung.
“Yang penting telaten memantau. Kalau burung diperhatikan dengan baik, produksinya juga bisa lebih maksimal,” katanya.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya saling berbagi informasi dengan sesama peternak. Menurutnya, komunikasi antar peternak sangat membantu dalam mengatasi berbagai kendala yang mungkin muncul.
“Jangan menutup diri. Harus sering sharing dengan peternak lain supaya kalau ada masalah bisa saling membantu mencari solusi,” jelasnya.
Dalam hal kesehatan, Ahmad mengatakan burung perkutut relatif jarang terserang penyakit berat. Masalah yang paling sering muncul biasanya hanya cacingan. Gejalanya bisa dilihat dari perilaku burung yang cenderung diam dan kurang aktif.
Untuk mengatasinya, ia menggunakan obat cacing yang biasa digunakan manusia. Obat tersebut digerus, dicampur air, lalu diminumkan kepada burung.
“Biasanya dua jam setelah diberi obat, cacingnya akan keluar dari dubur burung,” ujarnya.
Sementara untuk pakan, Ahmad menggunakan campuran voer ayam, milet putih, dan beras merah. Air minum burung biasanya diganti setiap tiga hari sekali, sementara wadah minumnya dibersihkan jika sudah terlihat kotor.
Menurutnya, beternak perkutut tidak terlalu menyita tenaga karena perawatannya cukup sederhana. Bahkan pembersihan kandang atau sangkar pun tidak perlu terlalu sering.
“Sangkar biasanya dibersihkan sekitar setengah bulan sampai sebulan sekali. Kalau terlalu bersih justru burung bisa merasa tidak nyaman,” katanya.
Untuk proses pembiakan, anak burung biasanya dipisahkan dari induknya saat berusia sekitar 1,5 hingga 2 bulan. Dengan begitu, indukan bisa kembali bertelur.
Dalam satu tahun, sepasang induk perkutut bisa menghasilkan sekitar delapan hingga sepuluh kali telur. Jika ingin mempercepat proses produksi, Ahmad menggunakan metode bantuan burung puter sebagai induk asuh.
“Jadi setelah anak perkutut menetas, dipindah ke burung puter untuk dibesarkan. Dengan cara itu indukan perkutut bisa lebih cepat bertelur lagi,” jelasnya.
Meski jumlah ternak yang dimiliki sudah cukup banyak, Ahmad mengaku permintaan pasar masih belum sepenuhnya terpenuhi. Bahkan ia masih sering mengambil burung dari peternak lain untuk memenuhi permintaan pembeli.
Menurutnya, hubungan antar peternak perkutut lebih banyak diwarnai kerja sama dibandingkan persaingan.
“Kalau di dunia perkutut tidak ada istilah saingan. Justru kita saling mengisi,” ujarnya.
Saat ini, burung perkutut hasil ternaknya banyak dikirim ke berbagai daerah seperti Jabodetabek, Lampung, hingga Kalimantan. Pengiriman biasanya dilakukan sekitar dua kali dalam seminggu.
Dari berbagai jenis perkutut, Ahmad menyebut varian putih masih menjadi yang paling banyak dicari oleh pembeli. Selain itu ada juga jenis silver, Bangkok, dan beberapa varian lain.
“Yang paling laris biasanya yang putih. Permintaannya masih cukup tinggi,” katanya.
Bagi masyarakat yang ingin mencoba beternak perkutut, Ahmad menyarankan agar tidak ragu untuk belajar dari peternak lain. Dengan saling berbagi pengalaman, pemula bisa lebih cepat memahami dunia perkutut.
“Kalau sering sharing, kita jadi tidak mudah bosan dan bisa terus mendapatkan informasi baru tentang cara merawat perkutut,” pungkasnya.
-----------------------------
Ikuti BeritaKebumen
