DomaiNesia

Kebaikan Tak Pernah Salah Alamat, Pertolongan Saat Kerusuhan 1998 Dibalas 13 Tahun Kemudian

Kebaikan Tak Pernah Salah Alamat, Pertolongan Saat Kerusuhan 1998 Dibalas 13 Tahun Kemudian
Ilustrasi kerusuhan 98

KEBUMEN, beritakebumen.co.id - Sebuah kisah menyentuh sekaligus menginspirasi diceritakan oleh warganet, dalam utas yang diunggah oleh akun Thread @sea_idjastip. Bagaimana ayahnya melindungi keluarga tetangganya yang merupakan keturunan Tionghoa. 

Tahun 1998 adalah masa yang tak mudah. Di banyak daerah, situasi mencekam. Ketakutan dan prasangka membuat banyak orang memilih menjaga jarak. Namun, di tengah suasana seperti itu, almarhum ayahku justru memilih melakukan hal yang berbeda. 

Tetangga kami adalah sebuah keluarga keturunan Tionghoa. Demi membuat rumah mereka tampak "aman" dari incaran orang-orang yang berniat buruk, ayah menjemur sajadah di halaman rumah mereka dan menempelkan stiker kaligrafi di pintunya. Ibu juga sesekali diminta menyapu halaman rumah itu sambil mengenakan gamis dan hijab.

Kebaikan Tak Pernah Salah Alamat, Pertolongan Saat Kerusuhan 1998 Dibalas 13 Tahun Kemudian

 
Selama beberapa hari, orang tuaku yang mengantarkan sembako dan kebutuhan pokok ke rumah mereka. Meski setiap pengeluaran selalu mereka ganti, ayah dan ibu tetap melarang satu keluarga itu keluar rumah untuk alasan apa pun. Yang terpenting saat itu bukan soal uang, tetapi memastikan tetangga kami tetap selamat.

Waktu terus berjalan. Tahun berganti, kehidupan kembali normal. Hubungan kami tetap baik, meski masing-masing sibuk dengan kehidupannya.

Hingga pada tahun 2011, sekitar 13 tahun kemudian, kepala keluarga itu tiba-tiba datang ke rumah. Ia mengajak ayah ke kantor notaris.

Awalnya kami tidak tahu ada keperluan apa. Rupanya mereka berencana pindah ke Singapura dan menjual rumahnya.

Kebaikan Tak Pernah Salah Alamat, Pertolongan Saat Kerusuhan 1998 Dibalas 13 Tahun Kemudian
Yang membuat kami benar-benar terkejut, mereka ternyata menghadiahkan sebagian tanah milik mereka kepada ayah. Sebidang lahan dengan lebar sekitar 4,5 meter dan panjang 14 meter langsung dipecah sertifikatnya atas nama ayahku.

Saat ibu mengucapkan terima kasih dengan penuh haru, istri dari tetangga kami itu hanya tersenyum lalu berkata,

"Kami yang justru berutang budi, Bu. Terima kasih. Sejak Ibu sering menyapu halaman kami 13 tahun lalu, saya sudah bilang ke suami dan anak-anak, 'Halaman ini milik Bu Riani.' Maaf ya, kami cuma numpang sama Ibu selama ini."

Kalimat sederhana itu membuat kami terdiam. Rupanya, kebaikan yang dilakukan orang tuaku tanpa pamrih selama masa-masa sulit tidak pernah mereka lupakan.

Sejak saat itu, rumah kami yang awalnya berada di ujung gang sempit, hanya cukup dilalui satu sepeda motor, berubah menjadi rumah yang menghadap langsung ke jalan dengan halaman yang jauh lebih luas.

Semoga Bu Cia dan keluarga selalu diberikan kesehatan, kebahagiaan, dan keberkahan di mana pun berada. Terima kasih telah mengajarkan bahwa rasa syukur dan balas budi adalah nilai yang akan selalu hidup, melampaui waktu dan perbedaan. *


-----------------------------
Ikuti BeritaKebumen
Previous Post Next Post