KEBUMEN, beritakebumen.co.id - Kegagalan berkali-kali tidak selalu menjadi akhir dari sebuah usaha. Bagi Ahmad Miftahudin, warga Desa Purwosari, Kecamatan Puring, Kebumen, kegagalan justru menjadi bagian penting dalam perjalanan hingga berhasil membangun usaha peternakan ayam.
Ketertarikan Ahmad pada dunia unggas sebenarnya sudah tumbuh sejak masih duduk di bangku SMP hingga SMA. Saat itu, ia kerap diajak sang ayah berjualan di pasar. Dari kebiasaan tersebut, muncul rasa penasaran dan ketertarikan terhadap dunia perdagangan ayam dan berbagai jenis unggas.
Ketika memasuki bangku kuliah, keinginannya untuk mandiri semakin kuat. Saat itu, orang tuanya harus membiayai pendidikan tiga anak, yakni Ahmad dan kakaknya yang sama-sama kuliah, serta seorang adiknya yang masih bersekolah.
Kondisi tersebut membuat Ahmad berpikir untuk ikut membantu meringankan beban orang tuanya.
Ia kemudian mulai mencari penghasilan sendiri dengan cara berburu dagangan unggas di sejumlah pasar di Yogyakarta untuk kemudian dijual kembali di Pasar Kebumen.
"Setiap akhir pekan, biasanya saya pulang dari kampus. Dari kampus langsung menuju pasar untuk mencari dagangan, kemudian pulang ke Kebumen dan menjualnya di pasar," kisah Ahmad.
Saat itu, berbagai jenis unggas yang ia jual antara lain anak ayam, anak mentok, hingga kelinci. Penghasilannya memang belum besar, tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan uang saku selama satu minggu.
Beberapa pasar di Yogyakarta menjadi tempat Ahmad mencari dagangan, seperti Pasar Wates, Pasar Bantul, Pasar Panjatan, Pasar Pengasih, dan Pasar Godean. Dari sejumlah pasar tersebut, Pasar Wates dan Pasar Pengasih menjadi lokasi yang paling sering ia datangi.
Setelah menyelesaikan kuliah di jurusan Desain Teknologi Barang Kulit di ATK Yogyakarta, Ahmad mulai mencoba serius masuk ke dunia peternakan.
Sekitar awal 2018, ia mulai beternak ayam.
Namun, perjalanan itu jauh dari kata mudah.
Percobaan pertama dengan sekitar 100 ekor ayam berakhir dengan kegagalan. Ayam-ayam yang dipeliharanya mati.
Tidak menyerah, Ahmad kembali mencoba dengan jumlah lebih banyak, sekitar 200 ekor. Namun hasilnya kembali sama. Ayam-ayam tersebut mati.
Ia terus mencoba. Bahkan, Ahmad pernah memelihara hingga 500 ekor ayam, tetapi semuanya kembali mati.
Bagi sebagian orang, kegagalan berulang seperti itu mungkin sudah cukup menjadi alasan untuk berhenti. Namun Ahmad justru memilih mencari tahu penyebabnya.
"Setiap kali melihat ayam itu ada rasa senang. Jadi, mati berapa ekor pun tetap senang. Saya yakin bisnis ternak ayam ini akan berhasil," ujarnya.
Keyakinan tersebut semakin kuat karena ia memegang sebuah prinsip sederhana bahwa kegagalan adalah bagian dari proses menuju keberhasilan.
Ia teringat sebuah nasihat yang kemudian menjadi motivasinya untuk terus mencoba, yakni bahwa seseorang harus menghabiskan jatah gagalnya sebelum akhirnya menemukan keberhasilan.
Titik balik perjalanan Ahmad terjadi ketika ia bertemu dengan seorang teman yang juga seorang peternak.
Temannya tersebut melihat bahwa ada sejumlah kesalahan dalam cara Ahmad beternak. Ia kemudian memberikan berbagai masukan, mulai dari pengaturan suhu dan kelembapan kandang hingga pemberian vaksinasi yang tepat.
Ahmad juga mendapatkan pengetahuan mengenai berbagai penyakit ayam yang sulit terdeteksi sejak awal, termasuk cara mengobati sekaligus melakukan pencegahannya.
Dari situlah Ahmad mulai memahami bahwa beternak ayam tidak cukup hanya dengan memberi pakan dan menunggu ayam besar.
Ada banyak hal yang harus diperhatikan, mulai dari kondisi lingkungan, suhu, kelembapan, kesehatan, vaksinasi, hingga penanganan penyakit.
Pengetahuan tersebut perlahan membuat tingkat keberhasilan ternaknya meningkat.
Setelah melewati berbagai proses panjang, usaha Ahmad kini berkembang jauh dibandingkan saat pertama kali mencoba beternak.
Saat ini, jumlah ayam yang ia ternakkan mencapai sekitar 4.000 ekor. Ayam dipelihara mulai dari DOC atau anak ayam hingga siap panen.
Jenis ayam yang dipeliharanya pun beragam, termasuk ayam pejantan dan ayam Joper Ulu, yang merupakan hasil persilangan ayam pelung dengan ayam Perancis.
Ayam yang sudah siap dipanen umumnya memiliki bobot sekitar 9 hingga 12 ons dan sebagian besar hasil ternaknya dipasarkan sendiri.
Pengalaman Ahmad sebagai pedagang sejak muda ternyata menjadi keuntungan tersendiri dalam mengembangkan pemasaran.
Ia tidak hanya mengandalkan satu jalur penjualan.
Ayam hasil ternaknya dipasarkan langsung ke pasar, bakul atau pedagang, warung-warung, hingga melayani pesanan dan pengantaran kepada konsumen yang membutuhkan.
"Karena basic saya bakul, jadi saya jual sendiri. Bisa ke pasar, ke bakul-bakul, ke warung-warung, maupun delivery order ke orang yang membutuhkan ayam," jelasnya.
Menurut Ahmad, salah satu tantangan terbesar bagi peternak pemula bukan hanya soal bagaimana memelihara ayam agar sehat, tetapi juga bagaimana menjual hasil ternaknya.
Peternak yang baru memulai usaha sering kali masih kebingungan menentukan pasar. Apalagi pada tahap awal, hasil produksi belum selalu maksimal.
Karena itu, menurut Ahmad, peternak harus mulai memikirkan pemasaran sejak awal, bukan setelah ayam siap panen.
Pengalaman menjadi pedagang sejak masih kuliah membuat Ahmad terbiasa mencari pembeli sendiri. Pengalaman tersebut kemudian ia terapkan ketika mulai membangun peternakan.
Dalam perjalanan usahanya, Ahmad juga merasakan perubahan setelah menikah.
Ia mengaku usaha ternaknya semakin lancar dan rezeki yang diperoleh juga terasa semakin terbuka.
Baginya, perjalanan membangun usaha peternakan bukan hanya tentang jumlah ayam yang berhasil dipelihara, tetapi juga tentang keberanian untuk terus mencoba ketika mengalami kegagalan.
Dari hanya mencari anak ayam dan kelinci di pasar-pasar Yogyakarta untuk dijual kembali di Kebumen, Ahmad kini mampu mengembangkan peternakan dengan ribuan ekor ayam.
Perjalanan tersebut menjadi bukti bahwa sebuah usaha tidak selalu langsung berhasil sejak percobaan pertama.
Ada proses belajar, jatuh bangun, kegagalan, hingga akhirnya menemukan cara yang tepat.
Kini, usaha ayam milik Ahmad menyediakan berbagai kebutuhan unggas, mulai dari ayam Joper, ayam jago, basur, berbagai jenis unggas, hingga DOC Ulu dan DOC pejantan.
Bagi Ahmad, pengalaman gagal memelihara 100, 200, bahkan 500 ekor ayam bukanlah cerita yang ingin dilupakan. Justru dari kegagalan-kegagalan itulah ia belajar memahami dunia peternakan.
Sebab, baginya, selama masih mau belajar dan mencoba, kegagalan bukanlah tanda untuk berhenti, melainkan bagian dari perjalanan menuju keberhasilan. (BK/Yog)
-----------------------------
Ikuti BeritaKebumen
Ketertarikan Ahmad pada dunia unggas sebenarnya sudah tumbuh sejak masih duduk di bangku SMP hingga SMA. Saat itu, ia kerap diajak sang ayah berjualan di pasar. Dari kebiasaan tersebut, muncul rasa penasaran dan ketertarikan terhadap dunia perdagangan ayam dan berbagai jenis unggas.
Ketika memasuki bangku kuliah, keinginannya untuk mandiri semakin kuat. Saat itu, orang tuanya harus membiayai pendidikan tiga anak, yakni Ahmad dan kakaknya yang sama-sama kuliah, serta seorang adiknya yang masih bersekolah.
Kondisi tersebut membuat Ahmad berpikir untuk ikut membantu meringankan beban orang tuanya.
Ia kemudian mulai mencari penghasilan sendiri dengan cara berburu dagangan unggas di sejumlah pasar di Yogyakarta untuk kemudian dijual kembali di Pasar Kebumen.
"Setiap akhir pekan, biasanya saya pulang dari kampus. Dari kampus langsung menuju pasar untuk mencari dagangan, kemudian pulang ke Kebumen dan menjualnya di pasar," kisah Ahmad.
Saat itu, berbagai jenis unggas yang ia jual antara lain anak ayam, anak mentok, hingga kelinci. Penghasilannya memang belum besar, tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan uang saku selama satu minggu.
Beberapa pasar di Yogyakarta menjadi tempat Ahmad mencari dagangan, seperti Pasar Wates, Pasar Bantul, Pasar Panjatan, Pasar Pengasih, dan Pasar Godean. Dari sejumlah pasar tersebut, Pasar Wates dan Pasar Pengasih menjadi lokasi yang paling sering ia datangi.
Berkali-kali Gagal, Tak Pernah Menyerah
Setelah menyelesaikan kuliah di jurusan Desain Teknologi Barang Kulit di ATK Yogyakarta, Ahmad mulai mencoba serius masuk ke dunia peternakan.
Sekitar awal 2018, ia mulai beternak ayam.
Namun, perjalanan itu jauh dari kata mudah.
Percobaan pertama dengan sekitar 100 ekor ayam berakhir dengan kegagalan. Ayam-ayam yang dipeliharanya mati.
Tidak menyerah, Ahmad kembali mencoba dengan jumlah lebih banyak, sekitar 200 ekor. Namun hasilnya kembali sama. Ayam-ayam tersebut mati.
Ia terus mencoba. Bahkan, Ahmad pernah memelihara hingga 500 ekor ayam, tetapi semuanya kembali mati.
Bagi sebagian orang, kegagalan berulang seperti itu mungkin sudah cukup menjadi alasan untuk berhenti. Namun Ahmad justru memilih mencari tahu penyebabnya.
"Setiap kali melihat ayam itu ada rasa senang. Jadi, mati berapa ekor pun tetap senang. Saya yakin bisnis ternak ayam ini akan berhasil," ujarnya.
Keyakinan tersebut semakin kuat karena ia memegang sebuah prinsip sederhana bahwa kegagalan adalah bagian dari proses menuju keberhasilan.
Ia teringat sebuah nasihat yang kemudian menjadi motivasinya untuk terus mencoba, yakni bahwa seseorang harus menghabiskan jatah gagalnya sebelum akhirnya menemukan keberhasilan.
Belajar dari Peternak hingga Menemukan Pola yang Tepat
Titik balik perjalanan Ahmad terjadi ketika ia bertemu dengan seorang teman yang juga seorang peternak.
Temannya tersebut melihat bahwa ada sejumlah kesalahan dalam cara Ahmad beternak. Ia kemudian memberikan berbagai masukan, mulai dari pengaturan suhu dan kelembapan kandang hingga pemberian vaksinasi yang tepat.
Ahmad juga mendapatkan pengetahuan mengenai berbagai penyakit ayam yang sulit terdeteksi sejak awal, termasuk cara mengobati sekaligus melakukan pencegahannya.
Dari situlah Ahmad mulai memahami bahwa beternak ayam tidak cukup hanya dengan memberi pakan dan menunggu ayam besar.
Ada banyak hal yang harus diperhatikan, mulai dari kondisi lingkungan, suhu, kelembapan, kesehatan, vaksinasi, hingga penanganan penyakit.
Pengetahuan tersebut perlahan membuat tingkat keberhasilan ternaknya meningkat.
Kini Memelihara Sekitar 4.000 Ekor Ayam
Setelah melewati berbagai proses panjang, usaha Ahmad kini berkembang jauh dibandingkan saat pertama kali mencoba beternak.
Saat ini, jumlah ayam yang ia ternakkan mencapai sekitar 4.000 ekor. Ayam dipelihara mulai dari DOC atau anak ayam hingga siap panen.
Jenis ayam yang dipeliharanya pun beragam, termasuk ayam pejantan dan ayam Joper Ulu, yang merupakan hasil persilangan ayam pelung dengan ayam Perancis.
Ayam yang sudah siap dipanen umumnya memiliki bobot sekitar 9 hingga 12 ons dan sebagian besar hasil ternaknya dipasarkan sendiri.
Pengalaman Ahmad sebagai pedagang sejak muda ternyata menjadi keuntungan tersendiri dalam mengembangkan pemasaran.
Ia tidak hanya mengandalkan satu jalur penjualan.
Ayam hasil ternaknya dipasarkan langsung ke pasar, bakul atau pedagang, warung-warung, hingga melayani pesanan dan pengantaran kepada konsumen yang membutuhkan.
"Karena basic saya bakul, jadi saya jual sendiri. Bisa ke pasar, ke bakul-bakul, ke warung-warung, maupun delivery order ke orang yang membutuhkan ayam," jelasnya.
Bukan Sekadar Beternak, tetapi Juga Belajar Memasarkan
Menurut Ahmad, salah satu tantangan terbesar bagi peternak pemula bukan hanya soal bagaimana memelihara ayam agar sehat, tetapi juga bagaimana menjual hasil ternaknya.
Peternak yang baru memulai usaha sering kali masih kebingungan menentukan pasar. Apalagi pada tahap awal, hasil produksi belum selalu maksimal.
Karena itu, menurut Ahmad, peternak harus mulai memikirkan pemasaran sejak awal, bukan setelah ayam siap panen.
Pengalaman menjadi pedagang sejak masih kuliah membuat Ahmad terbiasa mencari pembeli sendiri. Pengalaman tersebut kemudian ia terapkan ketika mulai membangun peternakan.
Rezeki yang Terasa Semakin Lancar
Dalam perjalanan usahanya, Ahmad juga merasakan perubahan setelah menikah.
Ia mengaku usaha ternaknya semakin lancar dan rezeki yang diperoleh juga terasa semakin terbuka.
Baginya, perjalanan membangun usaha peternakan bukan hanya tentang jumlah ayam yang berhasil dipelihara, tetapi juga tentang keberanian untuk terus mencoba ketika mengalami kegagalan.
Dari hanya mencari anak ayam dan kelinci di pasar-pasar Yogyakarta untuk dijual kembali di Kebumen, Ahmad kini mampu mengembangkan peternakan dengan ribuan ekor ayam.
Perjalanan tersebut menjadi bukti bahwa sebuah usaha tidak selalu langsung berhasil sejak percobaan pertama.
Ada proses belajar, jatuh bangun, kegagalan, hingga akhirnya menemukan cara yang tepat.
Kini, usaha ayam milik Ahmad menyediakan berbagai kebutuhan unggas, mulai dari ayam Joper, ayam jago, basur, berbagai jenis unggas, hingga DOC Ulu dan DOC pejantan.
Bagi Ahmad, pengalaman gagal memelihara 100, 200, bahkan 500 ekor ayam bukanlah cerita yang ingin dilupakan. Justru dari kegagalan-kegagalan itulah ia belajar memahami dunia peternakan.
Sebab, baginya, selama masih mau belajar dan mencoba, kegagalan bukanlah tanda untuk berhenti, melainkan bagian dari perjalanan menuju keberhasilan. (BK/Yog)
-----------------------------
Ikuti BeritaKebumen


